Artikel

Peran Penting Sel Endotel Pembuluh Darah terhadap munculnya berbagai komplikasi penyakit pada Diabetes

    Dibaca 128 kali Konsep Karnus Lambung Sakit lambung Diabetes Maag asam lambung GERD

Dalam tubuh manusia terdapat pembuluh darah yang panjangnya bisa mencapai sekitar 60.000 mil yang terdiri dari pembuluh darah arteri, vena dan kapiler. Tunika intima (lapisan pembuluh darah bagian dalam) dari pembuluh darah ini terdiri dari 10 -60 triliun sel endotel, dengan berat sekitar 1 kg. namun memiliki luas permukaan sekitar 1000 m2.

 

Sel endotel tersebut berperan penting dalam regulasi pembuluh darah melalui mediator yang dihasilkannya, seperti NO (Nitrit Oksida), serotonin, histamin, prostaglandin dan lain-lainya seperti pada tabel berikut:

 

Lapisan sel endotel membentuk endotelium yang melapisi dinding bagian dalam dari pembuluh darah dan limfa.

 

Awalnya lapisan endotel ini dianggap sebagai lapisan pasif sebagai barir yang bersifat semipermiabel antara darah dalam lumen dengan dinding pembuluh darah. Namun semenjak mulai banyaknya penelitian tentang peran NO (Nitrit Oksida) terhadap fungsi sel endotel. Barulah diketahui bahwa Endotelium tersebut ternyata memiliki peran yang sangat penting dan unik yang berkaitan dengan masalah  kesehatan manusia.

 

 

Disfungsi endotel ditandai dengan terjadinya penurunan kemampuan endotel untuk menjalankan fungsi-fungsi homeostasis seperti mengatur tonus (tegangan otot) sel otot polos pembuluh darah untuk relaksasi dan kontraksi, mengendalikan produksi komponen protrombotik dan antitrombotik, fibrinolitik dan antifibrinolitik, melakukan intervensi dalam proliferasi dan migrasi sel pada adhesi dan aktivasi leukosit, serta proses imunologi dan inflamasi.

 

Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan tonus pembuluh darah untuk vasodilatasi dan vasokonstriksi, serta kondisi yang disebut sebagai aktivasi endotel yaitu pro inflamasi, proliferatif dan prokoagulasi. Kelainan pada endotel tersebut bisa menyebabkan munculnya penyakit berbahaya, seperti gagal jantung, gagal ginjal, hipertensi, gangguan pembuluh darah perifer, ulkus gangren, stroke, katark, glaukoma, impotensi dan lain sebagainya.

 

Dari penelitian eksperimental preklinis dan klinis telah terbukti bahwa endotelium merupakan suatu lapisan yang aktif dan dinamis, berperan mempertahankan homeostasis pada keadaan fisiologis dan patologis.

 

Endotelium sehat mampu mempertahankan tonus (tegangan otot) dan struktur vaskuler dengan mengatur keseimbangan antara vasodilatasi dan vasikonstriksi, inhibisi dan stimulasi faktor pertumbuhan, antitrombosis, dan protrombosis, anti implamasi dan proimplamasi, serta antioksidan dan prooksidasi.

 

Keutuhan endotel sangat penting dalam mempertahankan fungsi endotel, karena endotel dapat melepaskan faktor atau mediator yang berperan mengendalikan fungsi endotel. Beberapa faktor resiko kardiovaskuler seperti kadar glukosa, LDL, radikal bebas, infeksi virus, hipertensi, monopause, obesitas, penuaan, dan aktifitas fisik memicu pelepasan mediator untuk mengaktivasi endotel sehingga menyebabkan terjadinya disfungsi endotel. Disfungsi endotel ditandai dengan gangguan regulasi mekanisme homeostatik, peningkatan ekspresi molekul adhesi, peningkatan sistesis faktor proimflamasi dan pro trombotik, peningkatan stress oksidatif, dan gangguan tonus vaskuler. Hasil penelitian menunjukan bahwa disfungsi endotel menyebabkan atherosklerosis bertahun-tahun sebelum munculnya penyakit degeneratif seperti diabetes dan lainnya.

 

Berbagai deteksi adanya perubahan struktur dan fungsi endotel berkembang dengan pesat dan dimanfaatkan sebagai diagnostik dan terapi pengobatan untuk penyakit degeneratif.