Pandemi Covid-19 terkesan begitu menakutkan bagi hampir semua masyarakat di seluruh penjuru dunia. Bagaimana tidak, virus ini begitu mudahnya menyebar dan menularkan infeksi kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Dan satu hal yang membuat virus ini terkesan menakutkan adalah karena infeksi virus ini dapat menyebabkan terjadinya kesulitan atau gagal pernafasan sehingga menyebabkan kematian bagi siapa saja yang terinfeksi oleh virus covid-19 tersebut. Bagimana virus ini dapat menyebabkan gagal pernafasan pada orang yang terkena infeksi virus covid-19?

 

Virus covid-19 masuk pada sel target melalui ikatan dengan reseptor angiotensin converting enzyme 2 (ACE-2) yang diekspresikan dalam jumlah besar pada sel epitel alveolar paru, miosit jantung, sel endotel pembuluh, ginjal, saluran pencernaan dan sel lain. Replikasi dan pelepasan virus yang terjadi dalam sel endotel maupun sel epitel kemudian memicu respon imun awal yang tinggi dimana beberapa sitokin proinflamasi disekresikan dalam jumlah besar.

 

Pada kasus berat, respon inflamasi yang berlebihan ini menyebabkan terjadinya badai sitokin dimana respon proinflamasi yang dihasilkan oleh sitokin menyebabkan kerusakan lokal pada jaringan paru yang ditandai dengan adanya kerusakan alveolar difus, kerusakan epitel, apoptosis sel endotel, disregulasi koagulasi, dan fibrinolisis. Kerusakan di organ paru inilah yang menyebabkan terjadinya gagal pernafasan.

 

Adanya disfungsi endotel akibat infeksi COVID-19 telah dibuktikan melalui beberapa penelitian, dimana ditemukan adanya gambaran endotelitis limfositik pada paru, jantung, ginjal, hati, dan usus halus. Endotelitis adalah peradangan yang terjadi pada saluran dinding endotel yang disebabkan karena adanya respon imun. Selain itu juga ditemukan adanya badan inklusi virus serta akumulasi sel inflamatorik dalam sel endotel.

 

Disfungi endotel telah diketahui berperan dalam terjadinya disfungsi mikrovaskuler sehingga pembuluh darah cenderung akan mengalami vasokonstriksi, iskemia, inflamasi, dan berada dalam kondisi prokoagulasi.

 

Tingginya kejadian trombosis pada pasien COVID-19 disebabkan karena adanya peningkatan kekentalan darah akibat terjadinya hiperfibrinogenemia. Hal ini tercermin dengan adanya peningkatan tajam dari viskositas plasma pada pasien COVID-19. Peningkatan viskositas darah tersebut tentunya akan membuat aliran darah menjadi melambat, sehingga menyebabkan gangguan suplai nutrisi dan oksigen untuk kebutuhan metabolisme sel. Produksi molekul antiplatelet endotel seperti oksida nitrat dan prostasiklin juga akan menurun, sehingga menyebabkan terjadinya gangguan pada saluran pembuluh darah.

 

Untuk alasan ini, mengurangi kekentalan darah harus menjadi tujuan dalam mencegah atau mengobati komplikasi trombotik kekentalan pada COVID-19. Selain menurunkan kecenderungan trombosis, penurunan viskositas darah akan meningkatkan pengiriman oksigen karena perfusi berbanding terbalik dengan viskositas darah. Saturasi oksigen yang rendah pada pasien COVID-19 mungkin disebabkan oleh berkurangnya perfusi jaringan yang disebabkan oleh viskositas darah yang tinggi

 

Trombosis pada COVID-19 menjadi masalah besar bagi pasien yang yang menderita infeksi virus covid-19. Terjadinya trombosis tersebut disebabkan karena beberapa faktor seperti respon imun yang berlebihan, terjadinya endoteliopati, dan hiperkoagulabilitas.  Trombosis inilah yang disinyalir menjadi penyebab sel organ paru menjadi tersumbat oleh karena adanya pembekuan darah.

 

Dampak berbahaya akibat adanya trombosis pada pasien penderita covid-19 tersebut adalah terjadinya emboli paru yang menyebabkan terjadinya pneumonia. Emboli paru atau pnemonia adalah suatu kondisi di mana satu atau lebih arteri di paru-paru menjadi terhalang oleh adanya gumpalan darah. Pada umumnya, gumpalan darah yang terbentuk dan menyebabkan emboli paru itu berjumlah lebih dari satu. Gumpalan tersebut  akan menyumbat pembuluh darah dan mengakibatkan aliran darah ke jaringan di paru-paru menjadi terhambat sehingga menyebabkan kematian jaringan paru-paru.

 

Sering kali, terjadinya emboli paru pnemonia tersebut disebabkan oleh karena adanya pembekuan darah yang kebanyakan berasal dari kaki. Gejala yang mungkin ditunjukkan umumnya berupa sesak napas, nyeri dada, dan batuk.

 

Penanganan yang tepat untuk memecah gumpalan akibat trombosis ini sangat penting sekali karena berkaitan dengan pengurangan resiko kematian dari pasien penderita Covid-19. Penanganan untuk mengatasi adanya penggumpalan darah tersebut utamanya adalah dengan bantuan obat pengencer darah atau obat antiplatelet/antikoagulan. Salah satu bahan pangan alami yang juga mampu berperan sebagai zat antiplatelet adalah EGCG pada teh hijau sebagaimana yang terdapat pada produk Algatea.

 

Saat ini mekanisme pasti penyebab trombosis pada COVID19 belum diketahui. Patogenesis pneumonia COVID-19 dikaitkan dengan adanya inflamasi luas, badai sitokin, dan disfungsi endotel luas yang pada akhirnya memicu berbagai kaskade protrombotik seperti pada gambar di atas.  

 

Virus SARS-CoV-2 masuk pada sel melalui ikatan dengan reseptor angiotensinconverting enzyme 2 (ACE-2) yang diekspresikan dalam jumlah besar pada sel epitel alveolar, miosit jantung, sel endotel pembuluh, ginjal, saluran pencernaan dan sel lain. Replikasi dan pelepasan virus yang terjadi dalam sel endotel maupun sel epitel kemudian memicu respon imun awal yang tinggi dimana beberapa sitokin proinflamasi disekresikan dalam jumlah besar diantaranya IL-6, IL-1β, dan IL-2.

 

Pada kasus berat, respon inflamasi yang berlebihan ini menyebabkan terjadinya badai sitokin dimana respon proinflamasi yang dihasilkan oleh sitokin menyebabkan kerusakan lokal pada jaringan paru yang ditandai dengan adanya kerusakan alveolar difus, kerusakan epitel, apoptosis sel endotel, disregulasi koagulasi, dan fibrinolisis.

 

Pada pasien COVID-19 sering terjadi hipoksia. Hipoksia diketahui menyebabkan terjadinya vasokonstriksi dan penurunan aliran darah yang berkontribusi pada disfungsi endotel. Pada kasus berat seperti yang telah dilaporkan pada pasien dengan acute respiratory distress syndrome (ARDS), kondisi hipoksia juga memicu terjadinya perubahan fenotipe endotel yang bersifat antitrombotik dan anti-inflamatorik menjadi prokoagulan dan pro-inflamatorik dengan menginduksi hypoxia-inducible factor (HIF) yang menginduksi TF dan PAI-1.

 

Adanya disfungsi endotel akibat infeksi COVID-19 didukung oleh studi patologi dimana ditemukan adanya gambaran endotelitis limfositik pada paru, jantung, ginjal, hati, dan usus halus. Selain itu juga ditemukan adanya badan inklusi virus serta akumulasi sel inflamatorik dalam sel endotel. Disfungi endotel telah diketahui berperan dalam terjadinya disfungsi mikrovaskuler sehingga pembuluh cenderung mengalami vasokonstriksi, iskemia, inflamasi, dan berada dalam kondisi prokoagulasi.

 

Vasokontriksi, iskemia, inflamasi tersebut kemudian memicu terjadi trombosis, yang ditandai dengan terjadinya peningkatan viskositas darah dan meningkatnya D-dimer darah, sehingga membuat aliran darah menjadi melambat. Aliran darah yang melambat juga akan memicu terjadinya penurunan saturasi oksigen. Sehingga pasien akan mengalami kekurangan oksigen yang berdampak pada kerusakan jaringan tubuh bahkan menyebabkan kematian.

 

Terapi yang adekuat dan monitoring parameter hemostasis yang ketat dapat mencegah terjadinya trombosis dan memperbaiki luaran klinis pasien.

 

Hemostasis adalah istilah gabungan untuk segala prosedur yang dilakukan oleh tubuh untuk melindungi diri dari proses pendarahan. Hemostasis juga dapat diartikan sebagai mekanisme alami dari tubuh untuk menghentikan kehilangan darah yang berlebihan.

 

Beberapa penelitian sebelumnya telah menyebutkan tentang adanya abnormalitas parameter hemostasis pada pada pasien COVID-19, diantaranya adalah jumlah platelet (normal atau turun), prothrombin time (PT, normal atau memanjang), activated partial thromboplastin time (aPTT, normal atau memanjang), thrombin time (TT, normal atau memanjang), fibrinogen plasma (meningkat), faktor VIII (meningkat), dan D-dimer (meningkat).

 

Pada kasus infeksi COVID-19,  kelainan hemostasis yang paling konsisten yang biasanya terjadi  adalah adanya trombositopenia dan peningkatan D-dimer.

 

 


Baca Juga