Artikel

Waspada terhadap Penyakit Diabetes Mellitus Di Saat anda memasuki usia Dewasa Lanjut.

    Dibaca 96 kali Konsep Karnus Lambung Sakit lambung Diabetes Maag asam lambung GERD

Diabetes mellitus berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2013 diperkirakan terdapat 382 juta orang di dunia dan akan terus meningkat  menjadi 592 juta orang pada tahun 2035. Diabetes mellitus adalah penyakit gangguan metabolik menahun yang disebabkan tubuh tidak dapat menggunakan insulin yaitu  hormon yang mengatur keseimbangan kadar gula dalam darah secara efektif.

 

Seiring bertambahnya usia, toleransi tubuh terhadap glukosa akan menurun, sehingga banyak orang tua yang tidak sadar adanya kemungkinan berpotensi menderita penyakit diabetes mellitus.

Diabetes mellitus tipe 2 secara umum disebabkan terjadinya resistensi insulin. Dimana pada tahap awal peningkatan  kadar gula darah akibat resistensi insulin belum menunjukkan tanda-anda klinis diabetes. Resistensi insulin disebabkan oleh banyak faktor antara lain obesitas, asupan  makanan tinggi kalori, aktifitas fisik yang rendah, faktor genetik dan peningkatan hormon tertentu yang tidak normal, dan asupan kromium yang kurang dari kebutuhan yang berpengaruh terhadap homeostatis glukosa.

 

Resistensi Insulin

Terjadinya resistensi insulin menurut Saini (2010) sebagai kondisi dimana konsentrasi insulin yang dibutuhkan lebih banyak dibandingkan dengan kondisi normal untuk mempertahankan kadar gula darah. Hal tersebut menunjukkan bahwa insulin sudah tidak mampu untuk memberikan efek agar kadar gula dalam darah pada kondisi normal.

 

Di dalam tubuh manusia secara fisiologis kerja insulin dipengaruhi oleh growth hormone (GH) dan IGF-1 yang mendorong proses metabolik pada saat  kita makan. GH yang disekresi sebagai respon terhadap peningkatan insulin, sehingga tidak terjadi kondisi hipoglikemia. Sedangkan hormon yang mendorong proses metabolik pada saat puasa antara lain hormon glucagon, glukokortiroid dan katekolamin.

 

Glukagon berperan pada proses glikogenolisis, gluconeogenesis dan ketogenesis. Perbandingan antara insulin dan glucagon merupakan derajat fosforilasi dari enzim-enzim yang berperan pada aktivasi insulin, sedangkan glukokortikoid menyebabkan terjadinya proses katabolisme otot, glukoneogenesis dan lipolysis. Katekolamin juga menyebabkan terjadinya glukoneogenesis dan lipolisis. Apabila sekresi hormon-hormon yang berkebalikan fungsinya dengan insulin justru akan berakibat terjadinya resistensi insulin. Mekanisme yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi insulin yaitu mekanisme down-regulasi, defisiensi atau polimorfisme genetik dari fosforilase tyrosine reseptor insulin, protein IRS, PIP-3 kinase atau abnormalitas fungsi GLUT 4.

 

Sedangkan mekanisme asam lemak bebas yang berakibat pada terjadinya resistensi insulin disebabkan adanya peningkatan lemak konsentrasi asam yang mengakibatkan ketinggian asetil KoaA yang intramitochondrial atau CoA dan NADH atau NAD+ rasio, yang berlanjut dengan inaktifasi piruvat dehydrogenase. Hal tersebut akan menyebabkan konsentrasi sitrat meningkat sehingga fosfo fruktokonase terhambat. Peningkatan pengiriman dari asam lemak ke otot atau penurunan metabolisme intraseluler asam lemak menyebabkan peningkatan intraseluler metabolit asam lemak (seperti diasigliserol, lemak asil Koa dan ceramides. Dsitus pada substrat reseptor insulin (IRS-1 dan IRS-2), yang berdampak mengurangi kemampuan glukosa transportasi dan reseptor insulin signaling juga berkurang.

 

Usia Rentan terhadap  Penyakit Diabetes Mellitus

Setelah seseorang mencapai umur 30 tahun, kadar glukosa darahnya akan meningkat 1-2 mg %/tahun saat puasa dan sekitar 5,6-13 mg %/tahun pada 2 jam setelah makan. Separuh dari populasi orang yang mengidap penyakit Diabetes mellitus, terjadi pada usia > 60 tahun dengan prevalensi terbesar ditemukan pada usia > 80 tahun, jumlah ini diperkirakan akan mencapai 40 juta pada tahun 2050 (Gambert & Pinkstaff, 2006).

 

Diabetes mellitus sendiri merupakan faktor risiko terhadap munculnya berbagai penyakit terutama stroke dan gagal jantung, dua penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pada orang lanjut usia lebih berisiko terjadi peningkatan risiko kegagalan mendapat terapi yang tepat, diet, dan pengobatan yang dapat menyelamatkan hidupnya. Oleh karena itu, diagnosa sedini mungkin, tatalaksana serta pengawasan timbulnya komplikasi harus lebih diperhatikan. Umumnya 90% Diabetes pada orang dewasa termasuk Diabetes Mellitus tipe 2 dimana dari jumlah tersebut sekitar 50% berusia diatas 60 tahun. Penelitian epidemiologi lain menyebutkan di antara individu yang berusia lebih dari 65 tahun, 8,6 % menderita Diabetes mellitus tipe 2.

Resistensi insulin disebabkan oleh banyak faktor antara lain obesitas, asupan makanan tinggi kalori, aktifitas fisik yang rendah, faktor genetik dan peningkatan hormon tertentu yang tidak normal.

 

Pada orang usia lanjut terjadi peningkatan resistensi insulin. Hal ini akibat adanya peningkatan adiposit viseral. Terjadinya resistensi insulin pada otot-otot skeletal disebabkan penurunan komposisi otot, terutama glucose carrier protein GLUT4. Umur merupakan faktor independen sendiri yang mempengaruhi hilangnya sensitivitas insulin. Pada usia tua terjadi perubahan distribusi lemak dengan lemak viseral semakin bertambah dan lemak subkutan menurun. Selain itu, penelitian pada orang tua yang sehat ditemukan adanya akumulasi lemak di otot dan hati yang menyebabkan penurunan fungsi sel-sel mitokondria, selain itu seiring bertambah usia abnormalitas mitokondria semakin ditemukan. Meskipun, deposisi lemak viseral merupakan bagian normal dari penuaan, ia merupakan mekanisme patogenik utama dari resistensi insulin (Petersen & Shulman., 2006).

 

Pola hidup juga berkontribusi pada usia terkait penurunan sensitivitas insulin termasuk di dalamnya perubahan diet dimana lebih banyak mengkonsumsi lemak saturasi, gula, dan penurunan aktivitas fisik, yang menyebabkan penurunan massa otot dan penurunan kekuatan.

 

Faktor lain yang mempengaruhi turunnya toleransi terhadap glukosa adalah perubahan sekresi hormon-hormon derivat jaringan adiposa, seperti adiponektin dan leptin. Level leptin menurun seiring usia, dengan penurunan lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria (Isidori, Strollo, et al., 2000). Leptin akan menurunkan selera makan, dan penurunannya akan berkontribusi pada peningkatan adiposit dan perubahan komposisi ini terlihat pada orang tua. Adiponektin, merupakan protein dengan kemampuan anti-inflamasi, yang mana kemudian diketahui memiliki efek mengurangi resistensi insulin. Kadarnya yang tinggi pada orang tua terkait dengan penurunan risiko diabetes (Kanaya, Harris, et al., 2004).

 

Selanjutnya, pada usia tua terjadi sekresi insulin yang tidak memadai atau adekuat. Sebagai respon dari peningkatan kadar glukosa, insulin normalnya disekresikan dalam dua fase, fase pertama sebagai fase inisial (0-10 menit), yang diikuti oleh fase kedua (10-120 menit) yang secara berkelanjutan dibutuhkan untuk menjaga darah dalam kondisi euglikemia. Sebuah studi menunjukkan pada orang tua terjadi reduksi sebesar 50% pada sekresi sel β pankreas. Penuaan juga dicirikan oleh berkurangnya frekuensi dan amplitudo dari pengeluaran periodik insulin normal. Kehilangan irama normal ini penting karena irama ini menghambat pengeluaran glukosa dari hepar. Meskipun mekanisme ini belum sepenuhnya dimengerti, salah satu hipotesa yang mungkin adalah gangguan pada fisiologi inkretin derivat gut. Inkretin merupakan dua hormon gastrointestinal yaitu Gastric Inhibitory Polypeptide (GIP) dan Glucagon-Like Peptide-1 (GLP-1), yang mana mempertinggi sekresi insulin saat adanya pemasukan glukosa dari oral. Pada orang tua normal tanpa diabetes, pengeluaran dari GLP-1 lebih besar setelah pemasukan glukosa tapi tidak meningkatkan insulin sesuai yang diharapkan, menandakan adanya resisten sel β pankreas. Begitu diabetes berkembang, sekresi GLP-1 berkurang, dan sel-sel β menjadi resisten terhadap efek GIP (Toft-Nielsen, Damholt., 2001).

 

Berbagai faktor patogenik lainnya adalah penurunan pada fungsi sel-sel β termasuk kenaikan asam lemak bebas seiring usia dan akumulasi lemak di dalam sel-sel β. Penurunan massa sel-sel β pankreas dan deposit amilin juga berkontribusi.