Berdasarkan undang-undang yang tersemat di dalam sel tubuh manusia, begitu sel imun makrofag melihat adanya sel yang terinfeksi oleh suatu patogen, maka secara otomatis sel makrofag akan membunuh sel kita yang sudah terinfeksi tersebut. Sel yang terinfeksi tersebut akan dimakan, atau di fagosit oleh makrofag. Maka, inilah yang harus dipahami disini, jangan sampai makrofag ini membunuh sel kita sendiri secara massal. Jika terjadi sampai pembunuhan massal maka otomatis akan terjadi badai sitokin. Manusia ini akan terserang dua hal, pertama kematian sel akibat virus. Yang kedua kematian sel akibat fagosit dari sel imun.

 

Dari histamin ini akan membuat inflamasi, membuat sakit, memberi tahu ke sistem saraf pusat bahwa “saya sekarang sedang terserang infeksi virus”. Maka tubuh akan merasakan sakit, demam dan sebagainya. Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah tubuh memerintahkan pembuluh darah untuk melakukan dilatasi yang masif di pembuluh darahnya, supaya sel imun banyak yang masuk. Sehingga leukosit masuk ke tempat lokasi atau tempat kejadian perkara. Ada monosit juga, dimana sel ini adalah sel darah putih, yang selanjutnya akan bertransformasi menjadi pasukan makrofag, untuk membunuh virus dan membunuh sel yang sudah terinfeksi. Yang kedua dia akan memberitahu pasukan imun yang bernama dendrit. Dendrit inilah yang akan makan virus itu. Dendrit itu untuk apa? Pertama dendrit itu bisa berperan sebagai informan. Jadi pada saat ada seseorang melaporkan telah terjadi pembunuhan atau pencurian dan sebagainya, maka akan datang polisi.

 

Yang pertama kali akan diintrogasi itu adalah minimal adalah orang yang ada di lokasi itu. Nah demikian juga dengan dendrit, dia akan memfagosit patogen ini dan juga akan memberi informasi ke limfosit. Limfosit ini ada 2, yaitu sel T helper dan sel T Killer. Dan ada juga B-Sel. Sel T helper akan memberitahu B sel, dan ini akan saling ber-tiktok, bolak-balik, satu sama lain saling merespon.

 

Sel T Killer dan juga CD-8 juga akan membantu membunuh DAMPS dan patogen. Jadi ingat, di sini ada pasukan pembunuh yang cukup banyak. Meskipun sudah cukup banyak namun belum bisa membunuh virus. Sampai akhirnya lahirlah antibodi IgM. Antibodi ini masih yang bersifat sederhana, masih bersifat universal. IgM ini akan mencari tahu sumber masalahnya. Meski sudah ada IgM tapi itu masih belum selesai. target dari tubuh manusia ini adalah supaya bisa mempertahankan tubuhnya dari virus maka dia harus bisa membuat IgG. Begitu ada IgG, maka dia bisa selektif untuk membunuh hanya patogen yang menjadi pengacau tadi saja. Jika semakin lama kita tidak bisa membuat IgG ini, maka akan semakin banyak terjadi kematian sel, baik akibat virus maupun akibat sel imun kita sendiri yang membunuh sel yang terinfeksi. Misalkan ada 1 juta sel-sel paru-paru, yang terinfeksi ada 200 ribu. Jika kita tidak segera mencari tahu siapa virus itu, dengan memberikan antibodi yang spesifik dengan spikenya virus yang menginfeksi, maka 200 ribu sel yang terinfeksi tadi akan mati. Berarti 20% sel akan mengalami kematian. Meskipun sel itu selamat tapi kemungkinan besar akan menjadi cacat.

 

Jadi, untuk melawan virus atau kuman, endingnya, adalah membuat antibodi bernama IgG ini. Untuk mendapat IgG harus menjalani proses yang sudah disampaikan tadi itu. Nah apa yang terjadi di dalam sel? Kejadiannya akan persis sama dengan diluar tubuh kita. Contohnya pada saat kita ini, ada kejadian perkara, ada kecelakaan, atau misal ada kebakaran, kita berteriak minta tolong dan lapor pada pihak yang berwenang. Petugas aparat akan datang ke tempat lokasi, kemudian petugas akan melakukan introgasi dan sebagainya. Pihak aparat akan mencari tahu siapa yang menyebabkan kebakaran ini sampai mendapatkan suatu jawaban, jika gagal mendapatkan jawaban kenapa terjadi kebakaran, kemungkinan besar ke depannya akan terjadi banyak kebakaran lagi dan pastinya akan banyak orang ditangkap untuk dijadikan sebagai suspek, padahal belum tentu mereka itu bersalah.

 

Jadi IgG itu adalah produk dari intelijen. Yang dengan jitu menyimpulkan bahwa “Inilah penyebabnya”. Setelah memperoleh IgG ini, setelah mendapat data dari intelijen, maka itu akan disimpan sebagai database, dan jika ada kejadian serupa di masa depan, kita sudah tahu datanya, “oh orang inilah yang bikin perkara, oh orang ini... orang ini...” Demikianlah seperti itu.

 

Nah tapi perlu kita pahami, bahwa sejak terjadi infeksi, respon sel yang menjadi korban, juga respon sel imun, sampai terjadinya IgG, dan antibodi itu tidak gratis, semuanya membutuhkan energi dan itulah kerja dari seluruh sistem tubuh kita.

 

Tidak bisa dengan satu atau dua obat selesai, sampai sekarang virus itu tidak ada obatnya dan ternyata yang bisa ngobatin virus itu adalah system imun tubuh kita sendiri. Seberapa canggih, seberapa cerdas sistem imun tubuh kita, bukan seberapa kuat sistem imun itu. Jika dilihat dari patern ini, maka kita harus hati-hati jangan sampai hanya memperkuat sistem imun saja, misal dengan mempersenjatai makrofag, namun sistem imunnya masih slow respon atau kurang cerdas menghadapi patogen.

 

Kita tidak bisa hanya memberi senjata saja tanpa melatih kecerdasan makrofagnya. Analoginya misal kita memberikan senjata yang canggih ke aparat reguler tapi tidak melatih kecerdasan dari intelijennya. Maka senjata itu kemungkinan besar akan disalah gunakan, dan akan menyebabkan banyak korban pembunuhan. Nah itu adalah aturan hukum pada sistem imun di tubuh kita. Selanjutnya nanti kita akan akan coba bahas lebih mendalam lagi tentang skema pertahanan tubuh tersebut.

 

 


Baca Juga