Teh hijau merupakan hasil olahan teh yang diproses tanpa menggunakan proses oksidasi enzimatis. Proses pengolahan teh hijau merupakan serangkaian proses fisik dan mekanik tanpa proses atau minimal oksidasi enzimatis. Proses pengolahan teh hijau yang dikenal di dunia ada 2 (dua) macam, yaitu : panning (sangrai) dan steamed (pengukusan). Proses pengolahan teh hijau di Indonesia biasanya memakai panning (sangrai) sedangkan di Jepang lebih cenderung memakai steamed process (pengukusan). Kandungan senyawa kimia pada teh hijau seperti catechin dan senyawa polifenol yang lainnya masih cukup tinggi dan sangat bermafaat bagi kesehatan. Untuk menjaga kandungan senyawa kimia bermafaat tersebut, maka proses pengolahan teh hijau harus dilaksanakan dengan penuh ketelitian dan hati-hati. Proses menjaga kualitas pucuk segar harus dimulai sejak panen, yaitu dengan meminimalisir memarnya pucuk sejak pemetikan, pengangkutan sampai proses pelayuan.

 

Beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam teh hijau disajikan pada Tabel berikut ini:

 

Poliphenol yang terkandung dalam teh hijau terdiri dari beberapa senyawa kimia seperti: flavanol, Flavandiol, flavonoid serta asam fenolik yang jumlah keseluruhannya dapat mencapai 30% berat teh kering. Dari beberapa senyawa kimia tersebut, komponen terbesarnya adalah senyawa flavanol atau yang biasa disebut dengan senyawa catechin.

 

Manfaat mengkomsumsi teh hijau bagi kesehatan manusia di antaranya adalah :

 

  1. Menurunkan resiko penyakit kanker pankreas

Orang yang sering mengkonsumsi teh memiliki resiko yang lebih kecil terkena kanker pancreas dibandingkan dengan yang tidak pernah minum teh secara teratur. Peningkatan asupan teh dikaitkan dengan penurunan risiko kanker pankreas, dengan risiko 43% lebih rendah di antara orang yang mengonsumsi lebih dari 150 gram daun teh kering per bulan. Durasi minum teh yang lebih lama juga dikaitkan dengan berkurangnya risiko kanker pankreas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yang et al (2009), diketahui bahwa senyawa polyphenol yang terkandung dalam teh hijau terutama - epigalocatechin-3-gallate (EGCG) dapat menghambat karsinogenesis pada spektrum kanker.

 

  1. Mengurangi resiko diabetes

Pemberian flavonoid teh hijau, epigalocatechin gallate (EGCG) dapat menurunkan resistensi insulin dan mampu meningkatkan jumlah tirosin. EGCG dapat memodifikasi metabolisme glukosa secara menguntungkan sehingga konsumsi teh hijau bisa bermanfaat untuk membantu pengobatan diabetes.

 

  1. Mengendalikan kadar asam urat

Senyawa bioaktif terutama kafein yang ada pada teh hijau, yang berperan sebagai pembentuk rasa pahit pada teh ternyata memiliki efek terhadap penurunan kandungan asam urat dalam darah. Asam urat dalam tubuh dibentuk dari hasil reaksi kimia antara xantin dan xantin oksidase. Konsumsi kafein dapat menekan terjadinya reaksi antara xantin dengan xantin oksidase sehingga dapat mengurangi pembentukan asam urat.

 

  1. Mengurangi resiko stroke

Stroke telah jadi penyebab kematian utama di hampir semua rumah sakit di Indonesia, yakni 14,5 persen. Penyakit stroke termasuk salah satu penyebab utma kematian di Indonesia. Hal ini dipicu karena kurangnya perhatian terhadap tekanan darah tinggi (hipertensi) yang menjadi penyebab utama terjadinya stroke. Menurut Lenore et al (2009), bahwa konsumsi teh sebanyak ≥3 cangkir per hari (teh hijau atau teh hitam), dapat mengurangi risiko terjadinya stroke dan kematian akibat stroke sekitar 21%. Hal ini dipengaruhi oleh kandungan bahan aktif yang terdapat di dalam teh, seperti: antioksidan, catechin dan tehanine. Temuan ini menunjukkan bahwa minum teh dapat menjadi salah satu perubahan gaya hidup yang paling direkomendasikan untuk mengurangi risiko terkena penyakit stroke.

 

  1. Menurunkan tekanan darah

Konsumsi teh dalam jangka waktu yang lama dapat menurunkan tekanan darah. Hal ini dipengaruhi oleh adanya senyawa penurunan tekanan darah dari teh mungkin berhubungan dengan yang sifat antioksidan dan perlindungan endotel. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, dilaporkan bahwa orang yang mengkonsumsi teh dalam waktu 12 minggu mengalami penurunan tekanan darah yang cukup signifikan.

 

    6.Menjaga kesehatan tulang

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Verona et al (2000), diketahui bahwa perempuan peminum teh sejak muda mempunyai BMD (bone mineral density) atau kekuatan tulang lebih kuat dibandingkan dengan wanita yang bukan peminum teh. Peningkatan kekuatan tulang ini erat kaitannya dengan kandungan fluoride dan mangnesium yang berperan dalam pembentukan tulang.


Baca Juga