Kehidupan saat ini yang semakin modern, canggih, serba cepat dan serba digital ini pastinya menyebabkan perubahan gaya hidup manusia.  Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat ini akan banyak memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tetapi timbul salah satu dampak yang kurang positif yaitu  aktivitas fisik manusia menjadi semakin berkurang. Dalam hal kebutuhan pangan, perkembangan teknologi menyebabkan semakin beragamnya produk pangan olahan dan makanan fast food.  Kedua jenis pangan ini umumnya cenderung mempunyai kandungan GGL (gula, garam dan lemak) yang cukup tinggi dan menggunakan bermacam bahan tambahan pangan sintetik (pewarna, pengawet, perisa, pemanis dll). Disamping itu pula pada pangan olahan sering kali menggunakan teknologi yang dapat merubah karakteristik bahan pangan asal dan produk ini dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Disisi lain adanya perubahan lingkungan kita yang semakin terpapar polusi baik udara maupun air, banyaknya limbah logam berat, racun, dan senyawa-senyawa kimia lainnya juga dapat menyebabkan perubahan pada kehidupan manusia.

Tentunya seluruh perubahan aspek kehidupan tersebut akan memberikan pengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia. Tidak bisa dipungkiri saat ini perkembangan berbagai penyakit degeneratif (penyakit gangguan lambung, hipertensi, gagal jantung, diabetes mellitus, stroke dll), dan penyakit sel abnormal (kista, mioma, endometriosis, autoimun, kanker dll) semakin meningkat jumlahnya. Penyakit-penyakit ini tidak hanya diderita orang usia dewasa-lanjut, tetapi juga pada orang usia muda.  Meskipun bukan tergolong penyakit menular tetapi penyakit ini sangat menurunkan kualitas hidup penderitanya, membutuhkan biaya tinggi, dan menjadi penyumbang besar angka kematian pasien.

Sebetulnya apa saja yang menjadi penyebab timbulnya penyakit degeneratif dan sel abnormal tersebut?  Konsep Karnus menganalisa tubuh manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta, sehingga menyimpulkan ada 2 faktor penyebab penyakit tersebut yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh manusia sendiri, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar tubuh manusia.

  1. Faktor internal adalah faktor yang melibatkan sistem-sistem dalam tubuh manusia, sebagai contoh:
  2. Apakah sistem pencernaan makanan berjalan normal
  3. Apakah sistem peredaran darah berjalan lancar
  4. Apakah sistem enzim dan hormon bekerja dengan baik
  5. Apakah sistem-sistem tubuh yang lainnya berjalan dengan baik
  6. Faktor stress yang berkepanjangan
  7. Kurangnya aktivitas fisik (olah raga)
  8. Dan lain-lain
  9. Faktor eksternal adalah faktor yang berkaitan dengan sesuatu dari luar tubuh manusia antara lain:
  10. Apakah asupan makanan setiap hari mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh
  11. Apakah semua makanan yang kita konsumsi adalah makanan yang dapat diterima oleh sel tubuh kita
  12. Apakah terpapar senyawa lain yang dapat mengganggu sistem tubuh kita (polusi, racun, senyawa kimia berbahaya lainnya, rokok dll)
  13. Faktor dari lingkungan hidup lainnya

Selanjutnya kita dapat melakukan analisa dan identifikasi dengan detail apa saja sebetulnya yang menjadi penyebab penyakit degeneratif dan sel abnormal tersebut. Penyakit yang satu dengan lainnya mungkin penyebabnya sama atau berbeda, dan bisa karena faktor tunggal atau multifaktor. Setelah mengetahui secara detail faktor-faktor spesifik penyebab penyakit tersebut, kita akan mengetahui inti permasalahan yang sebenarnya sehingga kita dapat melakukan proses penanganan penyakit tersebut dengan lebih tepat.  Selain itu apabila kita sudah mengetahui penyebab penyakit-penyakit tersebut, kita dapat dengan mudah melakukan tindakan pencegahan yang tepat sehingga tubuh kita akan tetap sehat dan dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan baik serta beresiko kecil terkena penyakit degeneratif dan sel abnormal.

Pada kenyataannya saat ini secara umum penyakit degeneratif dan sel abnormal dianggap praktisi kesehatan sebagai penyakit yang masih sulit untuk disembuhkan. Pasien diterapi seumur hidup dengan obat-obatan hanya agar penyakitnya tidak bertambah parah dan tidak mengalami komplikasi. Seringkali terapi yang dilakukan hanya bersifat simptomatik, yang hanya menghilangkan gejala yang dirasakan, tetapi tidak menuju pada kesembuhan. Apabila terapi simptomatik dilakukan secara terus menerus, maka penyakit tidak akan sembuh dan justru seiring dengan waktu akan bertambah parah dan dapat terjadi komplikasi. Kalaupun dilakukan terapi pengobatan yang bertujuan menyembuhkan, tetapi ternyata tingkat keberhasilannya juga masih belum memuaskan. Beberapa kasus penyakit dapat ditangani dengan baik, tetapi dalam beberapa waktu akan muncul kembali. Tingkat kesembuhan pasien usia dewasa - lanjut biasanya juga lebih rendah dibandingkan dengan pasien usia muda.  Sedangkan penyakit degeneratif dan sel abnormal umumnya menyerang usia dewasa – lanjut walaupun saat ini banyak dijumpai menyerang usia muda. Disisi lain harapan setiap manusia adalah hidup sampai dengan usia lanjut dalam kondisi tetap sehat dan dapat beraktivitas dengan baik.

Apakah kita akan mengalami masa seperti ini terus menerus dan 100% pasrah dengan metode pengobatan yang ada? Ataukah kita akan mencoba berpikir dan menganalisa dengan lebih teliti dan menemukan jalan keluar yang lebih baik?

Konsep Karnus mempelajari tubuh manusia sesuai algoritma Sang Pencipta dan hubungannya dengan alam semesta. Sehingga identifikasi akar permasalahan dan solusi penanganan penyakit yang diambil selalu dikembalikan dan sejalan dengan algoritma tubuh, tidak bertentangan kecuali dalam kondisi yang memaksa dan hanya bersifat darurat, untuk sementara waktu saja.

Sebuah contoh fenomena menarik yang ditemukan di antara pasien penyakit degeneratif dan sel abnormal adalah bahwa pasien penyakit tersebut umumnya memiliki organ lambung yang bermasalah. Pada pemahaman medis saat ini, tidak ditemukan hubungan yang erat antara gangguan lambung dengan penyakit degeneratif dan sel abnormal. Bagaimana Konsep Karnus menjawab fenomena tersebut? Konsep Karnus senantiasa mengembalikan permasalahan tubuh manusia sesuai dengan algoritmanya.  Setelah mempelajari algoritma tubuh dan ilmu dasar lainnya, Konsep Karnus justru menemukan jawaban yang sebaliknya yaitu bahwa penyakit gangguan lambung sangat berkaitan dalam proses timbulnya penyakit degeneratif dan sel abnormal. Konsep Karnus dengan yakin menyatakan bahwa gangguan lambung adalah salah satu penyebab utama timbulnya penyakit degeneratif dan sel abnormal.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Penyakit gangguan lambung adalah suatu kondisi dimana organ lambung mengalami gangguan, bisa bersifat ringan atau berat. Sakit lambung ringan apabila di bagian dinding lambung mengalami luka atau iritasi, sedangkan sakit lambung berat jika terjadi sel abnormal (kanker) pada lambung atau klep di saluran esofagus terganggu sehingga cairan asam lambung dapat naik keatas (penyakit GERD). Pada sakit lambung ringan, gejala yang sering terjadi adalah lambung terasa perih karena dinding lambung yang luka terkena cairan asam lambung. Penanganan yang umum dilakukan adalah dengan metode penetralan pH asam lambung dengan antasida. pH asam lambung yang netral akan membuat lambung tidak perih dan terasa nyaman. Sedangkan pada kasus sakit gangguan lambung berat, penanganan yang dilakukan adalah memberikan proton pump inhibitor yang berfungsi menghentikan keluarnya asam lambung dari epitel lambung, sehingga praktis lambung tidak terasa nyeri. 

Algoritma tubuh manusia menetapkan bahwa asam lambung yang ada dalam organ lambung adalah bersifat alamiah dan diciptakan untuk mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu untuk memecahkan makanan yang kita konsumsi dalam bentuk polimer menjadi monomer yang nantinya menjadi nutrisi bagi seluruh sel tubuh kita. Penanganan gangguan lambung dengan cara menetralkan dan menghentikan keluarnya asam lambung tentu saja bertentangan dengan algoritma tubuh yang disematkan oleh Sang Pencipta, dan tentunya akan berakibat fatal bagi tubuh. Apakah cara penanganan tersebut akan menyembuhkan gangguan lambung? Tentu saja tidak, karena hanya bersifat simptomatik yaitu menghilangkan rasa nyeri saja dan akan selalu kambuh lagi serta jika dilakukan terus menerus akan memberikan efek yang semakin fatal. Cairan asam lambung yang sering dinetralkan atau dihentikan akan menyebabkan proses pemecahan makanan menjadi nutrisi sel tidak berjalan sempurna, sehingga nutrisi banyak terbuang sebagai feces dan nutrisi untuk sel menjadi tidak tercukupi. Selain itu banyak timbunan lemak (trigliserida) dalam darah karena lemak tidak tercerna dengan baik, sehingga peredaran darah juga menjadi bermasalah. Seiring dengan berjalannya waktu muncul timbunan plak lemak yang menutupi dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan di pembuluh darah dan penurunan kualitas darah. Padahal darah mempunyai peran sebagai pembawa nutrisi dan oksigen ke seluruh sel tubuh. Timbunan plak lemak juga akan menutupi berbagai reseptor hormon dalam tubuh seperti reseptor insulin sehingga akan menyebabkan munculnya resistensi insulin yang menjadi penyebab terjadinya penyakit diabetes.

Apabila gangguan lambung tersebut berlangsung lama dan penanganannya masih sama, maka sel-sel dalam tubuh akan mengalami kekurangan nutrisi makanan. Sehingga sel tubuh mengalami gangguan kinerja fungsinya bahkan dapat mengakibatkan kerusakan dan kematian sel atau jaringan sel di dalam tubuh. Organ dimana sel-selnya mengalami kekurangan nutrisi maka menurun fungsinya dan timbullah penyakit degeneratif tergantung organ mana yang mengalami kerusakan, apakah tulang (osteoporosis), sendi (osteoarthritis), ginjal (gagal ginjal), saluran peredaran darah (hipertensi), jantung (jantung koroner dan gagal jantung), dan lain-lain.

Gangguan lambung dapat menjadi salah satu penyebab utama timbulnya penyakit sel abnormal. Bermula dari kegagalan lambung dalam memproses pemecahan makanan, terutama protein, sehingga tubuh tidak dapat menyediakan asam amino yang cukup sebagai bahan baku pembuatan enzim lipase. Sedangkan enzim lipase tersebut dibutuhkan dalam proses pemecahan lemak (trigliserida) di dalam darah. Apabila lemak (trigliserida) tidak dapat dipecah karena kekurangan enzim lipase, maka lemak (trigliserida) tidak dapat masuk ke dalam sel dan akan menumpuk di dalam sirkulasi darah. Semakin lama lemak (trigliserida) menumpuk dalam darah, maka akan semakin besar peluangnya bertemu dengan oksigen, sehingga risiko terjadinya oksidasi parsial semakin tinggi. Reaksi oksidasi parsial ini menghasilkan radikal bebas yang dapat masuk ke dalam sel sehingga mengganggu sistem perintah DNA atau RNA. Hal ini menyebabkan kesalahan pada hormon dan enzim yang dihasilkan.

Kesalahan pada hormon dan enzim dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan sel tubuh tertentu yang dituju. Perintah awal yang salah akan berujung pada hasil yang berbeda dari yang seharusnya, sehingga menyebabkan tumbuhnya sel abnormal.

Bagi penganut agama Islam, Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hafizh Assuyuthi dalam al-jami asshagiir mengatakan bahwa “Sumber Segala Penyakit adalah AlBaradah”. Al Baradah maksudnya adalah perut atau jeleknya pencernaan. Konsep Karnus dapat memberikan penjelasan dari hadis tersebut dan terbukti dari sanalah permasalahan penyakit degeneratif dan sel abnormal sebenarnya bermula.

Konsep Karnus juga sangat memperhatikan makanan, karena makanan adalah bahan baku penunjang kehidupan manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa makanan, sehingga keberadaan makanan di dunia ini bersamaan dengan keberadaan manusia. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari nantinya akan menjadi makanan seluruh sel tubuh kita. Apabila makanan yang kita konsumsi adalah makanan sehat dan dapat dicerna dengan baik, maka akan membuat seluruh sel kita hidup dan sel dapat berfungsi dengan baik.  Demikian juga sebaliknya, apabila makanan yang kita konsumsi adalah makanan yang tidak sehat dan tidak dapat dicerna dengan baik, maka sel-sel tubuh kita lambat laun akan rusak dan mati, dan manusia menjadi sakit. Sedemikian pentingnya peran makanan sehingga kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan makanan sehat dan makanan yang dapat dicerna oleh tubuh tersebut.

Perkembangan pengetahuan dan teknologi saat ini, sudah semestinya peran makanan bukan lagi hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasar tubuh yaitu bergizi dan lezat saja, tetapi juga dapat bersifat fungsional. Makanan dapat bersifat fungsional apabila mengandung komponen (baik nutrisi maupun non nutrisi) yang bermanfaat terhadap fungsi-fungsi organ tubuh yang relevan untuk menjaga kesehatan dan memiliki efek fisiologis yang menguntungkan, yaitu dapat mencegah, menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari suatu penyakit tertentu. Seorang Filsuf Kuno dari Yunani, Hipocrates yang dianggap sebagai Bapak Kedokteran oleh dunia Barat pernah mengatakan bahwa Let your food be your medicine and let your medicine be your food” (jadikanlah makananmu adalah obat dan obatnya adalah makananmu).  

Dalam hal makanan, Konsep Karnus akan menjabarkan secara menyeluruh dan mendalam tentang algoritma makanan dalam tubuh manusia. Bagaimana pemrosesan makanan berbentuk polimer yang kita konsumsi sehari-hari menjadi nutrisi sel berbentuk monomer, dan bagaimana nutrisi sel tersebut dikonversi menjadi energi untuk kehidupan sel seluruh tubuh manusia. Dari pemahaman tersebut, Konsep Karnus akan menjelaskan bagaimana sebetulnya makanan yang sesuai dengan algoritma tubuh manusia, sehingga makanan tersebut seharusnya berperan dalam hal penyediaan nutrisi fisiologis faalis untuk mengembalikan homeostasis tubuh pada kondisi normal sehingga tubuh secara alamiah akan memperbaiki diri dan terhindar dari berbagai penyakit.  Pada akhirnya Konsep Karnus akan menjawab mengapa makanan kita dapat berfungsi sebagai obat dan obat manusia harusnya berasal dari makanannya.


Baca Juga