Artikel

Waspadai Efek Negatif dari Penggunaan obat Anti Inflamasi terhadap Lambung

    Dibaca 715 kali Konsep Karnus Lambung Sakit lambung Diabetes Maag asam lambung GERD

Kerusakan lambung ternyata juga dapat di picu oleh pengunaan obat antiinflamasi non steroid (OAINS), karena obat tersebut bekerja dengan cara mengurangi produksi hormon prostaglandin. Padahal salah satu dari fungsi hormon prostaglandin adalah untuk menjaga produksi asam lambung agar tidak di produksi secara berlebihan.

 

Beberapa fungsi lainnya dari prostaglandin diantaranya adalah sebagai berikut:

 

  • Mengaktivasi pelepasan mukus pelindung pada dinding lambung dan usus.
  • Menghentikan perdarahan luka, dan
  • Membantu kemudahan dalam proses persalinan bayi.

 

Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) banyak digunakan sebagai analgesik dan anti inflamasi, namun  penggunaannya sekarang telah mendapat perhatian khusus dari pakar kesehatan di dunia, karena dianggap dapat menyebabkan kerusakan pada mukosa lambung, baik secara lokal maupun sistemik. Padahal obat analgesik dan antiinflamasi tersebut merupakan obat yang paling banyak diresepkan oleh para tenaga medis di dunia. Namun ternyata obat ini  bisa menimbulkan efek samping yang sangat serius bagi tubuh. Contoh obat OAINS yang paling umum dan sering digunakan adalah aspirin.

 

Beberapa penelitian endoskopik melaporkan bahwa pada pengguna OAINS sering terdapat ulkus pada bagian antrum lambung, meskipun tidak ditemukan adanya infeksi dari bakteri Helicobacter pylori. Studi yang dilakukan oleh Katsunori I (2015) diJepang menunjukkan bahwa ulkus peptikum ditemukan pada 6.5% dari 1,454 pasien yang menerima pengobatan low-dose aspirin (LDA).

 

Diperkirakan sebanyak 15– 40% dari pasien yang menggunakan obat analgesik dan antiinflamasi dalam jangka waktu yang lama akan mengalami keluhan pada saluran pencernaan  bagian atas, 10–25% nya menderita tukak peptik, terutama tukak lambung, dan sebanyak 1–4% akan mengalami perdarahan lambung dan perforasi (Stella Ilone, 2016).

 

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) bekerja dengan cara menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX), yang bertanggungjawab terhadap produksi prostaglandin. Dengan mekanisme ini, OAINS yang non-selektif dapat menyebabkan penurunan kualitas pertahanan mukosa lambung.

 

Di Amerika Serikat, obat yang paling sering di resepkan adalah OAINS padahal obat ini sudah diketahui memiliki efek samping yang bersifat toksisitas. Beberapa keluhan banyak dilaporkan oleh pasien sebagai efek samping penggunaan OAINS. Keluhannya mulai dari mual dan dispepsia (prevalensi dilaporkan hingga 50- 60%) sampai masalah gastrointestinal serius seperti ulkus peptik (15-30%) yang diperberat oleh perdarahan atau perforasi hingga 1,5% dari pemakai pertahun.

 

Diagnosis ulkus gaster didasarkan pada pengamatan klinis (dispepsia, kelainan fisik yang dijumpai, sugesti pasien), hasil pemeriksaan penunjang (radiologi dan endoskopi), dan hasil biopsi untuk pemeriksaan CLO (Test yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada enzym urease sebagai tanda dari  aktivitas bakteri H. pylori yang mengubah urea menjadi amonia yang bersifat basa sehingga terjadi perubahan warna menjadi merah), dan histopatologi kuman Helicobacter pylori.

 

Untuk mengobati penyakit gangguan di lambung sebagai akibat negatif dari penggunaan obat analagesik dan anti inflamasi, para tenaga medis di dunia umumnya menggunakan obat jenis antasida dan  PPI rabeprazole 2x20 mg, lanzoprazole 2x30 mg dan rebamipide 3x100 mg.

 

Tujuan terapi tersebut sebenarnya adalah untuk menghilangkan keluhan atau gejala rasa sakit di bagian lambung, menyembuhkan ulkus peptikum/gastris, mencegah agar ulkus lambung tidak kembali kambuh, dan mencegah terjadinya komplikasi, seperti terjadinya perdarahan, perforasi, dan stenosis pilorik. 

 

Namun berdasar hasil evaluasi dari  para peneliti yang meneliti tentang penggunaan obat-obatan antiulkus pada lambung tersebut menunjukkan terjadinya toleransi, dan efek samping yang berbahaya membuat efikasi obat-obatan tersebut menjadi diragukan. Akhirnya  banyak peneliti yang sekarang beralih meneliti bahan pangan alami yang di anggap memiliki khasiat sebagai obat anti inflamasi, analgesik yang sekaligus juga bisa mengatasi gangguan pada lambung (Ulkum Peptikum) tanpa mengandung efek samping yang berbahaya. Salah satunya adalah dengan melakukan penelitian terhadap pemanfaatan tumbuh-tumbuhan yang mengandung bahan obat alami untuk menyembuhkan, khususnya adalah buah pisang.

 

Pisang sebagai hasil bumi yang banyak ditemukan di Indonesia, hadir sebagai salah satu solusi untuk mencegah terjadinya ulkus gaster. Pisang merupakan salah satu buah yang paling sering ditemui dan memiliki banyak manfaat serta mengandung banyak nutrisi yang penting bagi tubuh.

 

Sejak dahulu pisang sudah dianggap memiliki khasiat dalam pengobatan medis. Beberapa khasiat buah pisang yang sudah diketahui antara lain adalah sebagai obat antidiare, antimikroba, antihipertensi, antihipoglikemik, antihipokolesterolemik, memberi efek baik untuk arterosklerosis, membantu menyembuhkan luka, antioksidan, diuretik, anti malaria, antibisa ular, antialergi, dan antiulseratif.

Ekstrak etanol pada buah pisang bersifat gastroprotektif seperti prostaglandin sehingga efektif sebagai obat profilaksis ulkus gaster.

 

Produk Alga Gold (AG) merupakan nutrisi makanan yang mengandung berbagai bahan aktif yang dibuat dari bahan-bahan alami yang di proses dengan teknologi moderen dan higienis. Salah satu bahan utamanya adalah dari pisang mentah pilihan. Sehingga Produk Alga Gold sangat baik digunakan untuk terapi pengobatan lambung dan berbagai penyakit degeneratif. (Lihat Artikel Kenapa Alga Gold sangat baik digunakan untuk pengobatan Gangguan Lambung dan Penyakit degeneratif)

 

Referensi:

Azrie Izzatul Jannah, Reni Zuraida. Pisang sebagai Anti Ulserogenik pada Ulkus Gaster akibat Induksi OAINS. MAJORITY I Volume 5 I Nomor 4 I Oktober 2016 I 28

 

Katsunori I, Tooru S. Geographic differences in low-dose aspirin-associated gastroduodenal mucosal injury. World J Gastroenterol. 2015; 21(25): 7709-17.

 

Stella Ilone, Marcelus Simadibrata. Diagnosis and Management of Gastroenterophaty Associated to Non Steroidal Anti Inflammantory Drugs. The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology and Digestive Endoscopy. Volume 17, Number 2, August 2016.