Berdasarkan pengalaman dari kejadian epidemi SARS pada tahun 2003, ilmuwan menemukan fakta bahwa cara virus SARS-CoV masuk ke dalam sel inang targetnya adalah melalui sebuah reseptor yang bernama ACE2ACE2 adalah suatu enzim yang termasuk dari hormon Angiostensin.

 

Virus SARs Cov tersebut memiliki sejenis alat yang berbentuk spike, yang dapat digunakan untuk menembus membran sel target. Alat tersebut berupa protein yang bernama Protein spike. Protein spike inilah yang menancap pada permukaan sel target dan selanjutnya mulai merusak membran sel target dan menginfeksinya.

 

Hormon angiotensin itu sendiri adalah sejenis hormone yang berperan penting dalam mengatur regulasi tekanan darah. Hormon ini terdiri dari 4 kelompok macam yaitu angiotensin I, angiotensin II, angiotensin III, dan angiotensin IV. Hormon angiotensin di produksi di dalam organ hati.

 

Adapun Tahapan Infeksi Virus SAR-CoV pada Sel Inang adalah sebagai berikut:

Pertama kali, hati akan membuat sejenis protein yang bernama angiotensinogen. Angiotensinogen tersebut kemudian akan dipecah oleh enzim renin yang berasal dari ginjal. Renin dilepaskan ginjal apabila sel di organ tersebut mendeteksi terjadi penurunan tekanan darah.

 

Pemecahan angiotensinogen tersebut akan membentuk angiotensin I. Selanjutnya, angiotensin I  akan masuk ke dalam aliran darah dan akan di rubah menjadi angiotensin II oleh enzim ACE. Angiotensin II berperan dalam memicu naiknya tekanan darah. Selanjutnya Angiotensin II akan di rubah lagi oleh enzim ACE2 menjadi Angiotensin 1-7.

 

ACE2 sendiri adalah suatu enzim yang menempel pada beberapa membran sel yang ada pada beberapa organ sel tertentu dalam tubuh.  Angiotensin 1-7 ini berperan sebagai suatu vasodilator. ACE2 melawan aktivitas enzim angiotensin converting enzyme (ACE) dengan mengurangi jumlah angiotensin-II dan meningkatkan Angiotensin (1-7).

 

Dengan demikian, enzim ACE dan ACE2 bekerja secara berlawanan dalam mengatur tekanan darah, yaitu kontraksi dan relaksasi.

 

Reseptor ACE2  tersebut biasanya terdapat pada beberapa organ berikut ini : organ paru-paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus.

 

Fungsi dari Hormon Angiostensin

 

Hormon Angiostensin memiliki fungsi sebagai berikut::

  • Memerintahkan sel untuk melakukan konstraksi, misalnya kontraksi sel jantung utk memompa darah, kontraksi sel paru utk mengembang dll
  • Apabila perintah ini diganggu, maka organ tidak akan berkonstraksi sehingga dapat menyebabkan gagal jantung, gagal nafas dll

 

ACE2 merupakan suatu protein membran tipe I yang dapat menembus membrane sebanyak sekali (single transmembrane), dengan bagian yang aktif secara enzimatik berada pada permukaan sel  paru-paru dan jaringan lain.

 

Jika dibandingkan, ternyata protein spike SARS-CoV2 (atau virus Covid-19) memiliki 76,5% kesamaan dengan sekuen asam amino dengan SARS-CoV dan protein spike, kedua virus itu ternyata homolog. Artinya bahwa kedua virus corona ini sebenarnya memiliki cara yang sama untuk menginfeksi sel inangnya.

 

Berdasarkan studi interaksi biokimia dan analisis struktur kristal, dapat diketahui bahwa Protein spike yang berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan virus SARS-CoV itu memiliki afinitas ikatan yang kuat dengan reseptor ACE2 yang ada pada organ manusia. Melalui ikatan dengan reseptor ACE2 inilah, virus SARS-CoV mulai masuk ke dalam sel target dan menginfeksinya.

 

Bahkan menurut para ilmuwan, kemampuan virus SARS-CoV-2 dalam mengenali reseptor ACE2 manusia itu  lebih hebat atau  lebih efektif dibandingkan kemampuan dari virus SARS-CoV. Maksudnya adalah kemampuan SARS-CoV2 untuk menularkan penyakit dari manusia yang satu ke manusia  yang lain, itu akan lebih hebat di bandingkan kemampuan penularan SAR-CoV.

Hal tersebut terbukti dengan sangat mudahnya virus Covid-19  menyebar ke seluruh dunia sampai menyebabkan pandemik wabah penyakit hamper di seluruh dunia hanya dalam waktu yang relarif singkat.

 

Adapun Mekanisme cara virus SAR-CoV2 menginfeksi Sel Target adalah sebagai berikut:

 

 

Secara Sederhana mekanisme bagaimana cara SAR-CoV2 menginfeksi sel target dapat di jelaskan sebagai berikut:

 

  • Pertama kali, virus SAR-CoV2 akan mendekati sel target kemudian dia akan melakukan pelekatan di salah satu bagian dari membran sel target. Yaitu di bagian reseptor sel yang memiliki reseptor ACE2 atau sel Angiotensin dengan menggunakan tentakelnya yang berupa suatu protein Spike (Protein S). Selanjutnya virus akan meminta reseptor ACE2 yang ada pada membran sel untuk membuka diri. Setelah pintu Sel terbuka, selanjutnya virus akan masuk ke dalam sitoplasma sel. Di dalam sitoplasma, virus tersebut akan me-lisis membrannya sendiri untuk mengeluarkan genom RNA-nya. Selanjutnya RNA virus akan menuju Ribosom.
  • Di dalam Ribosom itulah terjadi produksi RNA virus baru. RNA virus bereplikasi dan akan membentuk virus baru. Setelah virus-virus baru itu matang selanjutnya mereka akan keluar dari sel inang yang sudah mereka infeksi. Sel inang pun mengalami kematian dan Virus-virus baru akan mencari sel target lainnya. Proses itu pun berlangsung dengan cepat dan massive. Dan bisa menyebabkan badai sitokin, yaitu apabila sel imun di dalam tubuh justru membunuh sel-sel yang ada di dalam paru-paru. Kemudian karena  adanya aktivitas (ekspresi) ACE2 yang berlebihan pada manusia maka akan menyebabkan meningkatnya keparahan dari penyakit infeksi Covid-19. Apabila itu terjadi maka penderita Covid-19 akan mengalami gagal pernafasan yang akhirnya berujung pada kematian.

 

Gambar 4. Mekanisme Model Bagaimana cara Virus Menginfeksi Sel Target

 

Reseptor ACE2 banyak terdapat pada Sel Paru-Paru

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa cara Virus Covid-19 menginfeksi targetnya adalah melalui reseseptor ACE2 yang ada pada membran sel. Bedasarkan suatu penelitian yang dilakukan oleh Zhao et al pada tahun 2020  kepada jaringan  sel paru normal dari 8 orang donor dewasa, ditemukan bahwa 83% sel yang mengekspresikan ACE2 adalah sel epitel alveolus tipe II.  Sel epitel alveolus inilah yang membuat sel-sel ini seperti menjadi reservoir virus.  Sel epitel alveolus tipe 2 tersebut ada pada organ paru  dan saluran pernafasan.

 

Itulah mengapa gejala COVID-19 yang paling sering dijumpai umumnya ada pada saluran pernafasan khususnya paru-paru. Organ paru-paru dan saluran pernafasan adalah bagian organ yang paling rentan terinfeksi oleh virus SAR-CoV2.  Penderita akan mengalami pneumonia akut dan bisa terjadi kegagalan bernafas.

 

Selain pada epitel alveolus, ACE2 juga terekspresi tinggi pada sel-sel epitel usus, yang berperan sebagai co-receptor bagi masuknya nutrient ke dalam usus, terutama adalah asam amino dari makanan. Itulah  mengapa gejala COVID-19 ternyata tidak hanya terjadi pada saluran pernafasan, tetapi juga saluran pencernaan. Berdasarkan laporan yang ada, ternyata ada beberapa  pasien yang mengalami gangguan saluran cerna seperti diare, sakit perut, dll, sebelum akhirnya terbukti positif COVID-19.

 

Selain itu, reseptor ACE2 juga dijumpai pada sel-sel di luar paru yaitu pada jantung, ginjal, dan endothelium. Adanya ekspresi ACE2 di berbagai organ lain ini berkontribusi terhadap kejadian disfungsi multi organ (multi-organ dysfunction) yang sering dijumpai pada pasien COVID-19 yang parah.

 

Upaya Yang Dapat dilakukan Untuk Mengatasi Covid-19

Perlu di pahami, bahwa sampai saat ini (yaitu pada saat artikel ini di tulis) masih belum ditemukan obat untuk mengatasi penyakit Covid-19. Satu-satunya cara untuk mengatasi wabah ini adalah hanya dengan cara memperkuat sistem imun tubuh kita sendiri.

Penyakit yang diakibatkan oleh virus umumnya memang bersifat ‘self-limiting disease’, artinya untuk mengatasi penyakit tersebut dapat dengan mengandalkan pada kekuatan sistem imun tubuhnya sendiri.

 

Oleh karena itu banyak dari pakar kesehatan yang mengkampanyekan agar selalu meningkatkan kekuatan imun tubuh guna mencegah tertularnya infeksi virus khususnya di masa pandemi covid-19 ini, bahkan apabila tubuh sudah terlanjur tertular oleh virus itu pun, tubuh masih akan kuat untuk melawannya.

Salah satu upaya untuk memperkuat sistem imum tubuh yang dapat dilakukan, diantaranya adalah dengan cara mengkonsumsi nutrisi makanan yang sehat, rajin berolahraga dan tetap berpikir positif.

 

Selain makanan sehari-hari yang bergizi, alangkah baiknya di tambah juga dengan asupan suplemen makanan yang mengandung senyawa antioksidan dan imunostimulan. Yaitu senyawa bahan makanan yang dapat menangkal radikal bebas dan menstimulasi kekuatan sistem imun.

Suatu hal yang sangat penting lainnya untuk diperhatikan dalam menjaga kesehatan sistem imun adalah dengan memastikan kalau kesehatan sistem pencernaan tubuh kita dapat berfungsi secara optimal, khususnya bagian organ lambung sebagai bagian vital yang mengubah makanan yang kita makan menjadi nutrisi yang diperlukan oleh sel. Apabila nutrisi sel terpenuhi maka fungsionalitas sel akan terjaga baik. Sehingga semua fungsi organ tubuh dapat bekerja baik, termasuk juga system imun.

 

Apabila lambung dapat berfungsi secara baik maka nutrisi makanan pun dapat tersedia dalam bentuk yang diperlukan oleh sel dan bisa didistribusikan ke seluruh jaringan sel tubuh. Sehingga sel memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi sel yang mengalami kerusakan. Nutrisi sari makanan itu lah yang nantinya dapat berguna untuk membantu  menguatkan kesehatan sistem imun.

 

“Jika Sistem imun sehat maka tubuh pun akan menjadi kuat dalam mengatasi berbagai virus yang menyebabkan penyakit”


Baca Juga