Penderita diabetes perlu lebih waspada di tengah pandemi Covid-19. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Covid-19 adalah penyakit yang dapat berbahaya bagi penderita diabetes, usia lansia, penderita penyakit jantung, paru-paru, dan kanker. Beberapa penyakit komorbid tersebut adalah  termasuk dari golongan penyakit yang rentan saat terinfeksi virus corona.

Mengapa penderita diabetes lebih rentan terhadap covid-19? 

Melansir dari Diabetes.org, hingga kini memang belum ada data yang menunjukkan penderita diabetes lebih mudah terinfeksi virus corona. Namun, penderita diabetes termasuk kelompok yang rentan saat terkena Covid-19 karena dampak penyakit infeksi virus SARS-CoV-2.

Berdasarkan data yang diambil dari berita harian online kompas pada tanggal 7 agustus 2020, pasien diabetes yang terkena Covid-19 cenderung memiliki dampak yang lebih berat. Banyak penderitanya  yang meninggal di banding penderita covid-19 yang tidak memiliki penyakit  diabetes, sebagaimana yang dijelaskan dalam grafik berikut:

Gambar 1. Grafik Perbandingan Angka kematian dan Hidup terhadap penderita diabetes yang terkena covid-19

 

Data di atas di ambil dari beberapa hasil riset beberapa peneliti baik di China maupun Amerika, selama pertengahan tahun 2020.

Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa jumlah pasien penderita diabetes yang terkena covid-19 lebih banyak yang mengalami kematian di bandingkan yang hidup. Hal ini membuktikan kalau penderita diabetes itu sangat rentan apabila terpapar covid-19.

Belajar dari pengalaman dari Kota Wuhan China, penderita diabetes yang terinfeksi virus corona bisa mengalami komplikasi kesehatan yang serius sampai berdampak fatal kematian dibandingkan dengan pasien yang tanpa diabetes. Terlebih jika penyakit diabetes tersebut juga disertai penyakit bawaan lainnya seperti penyakit jantung, stroke dan lainnya, maka bisa menyebabkan risiko mengalami komplikasi akan semakin tingi.

 

Mengapa dapat terjadi seperti itu?

Alasan pertama adalah karena sistem imun penderita diabetes itu mengalami gangguan yang disebabkan oleh penyakit diabetesnya itu sendiri, sehingga membuat penderitanya akan lebih sulit  untuk melawan virus. Infeksi berbagai jenis virus (termasuk corona) membuat penyakitnya menjadi  lebih sulit untuk  diobati bagi pasien penderita diabetes. Mengapa bisa demikian?

Karena menyebabkan proses penyembuhan penyakit akan memakan waktu yang jauh lebih lama  dibanding pasien yang bukan penderita penyakit diabetes.

Alasan Keduanya adalah karena virus itu dapat berkembang baik di  lingkungan yang memiliki glukosa darah yang tinggi. Virus cenderung memang lebih menyukai berkembang di tempat inang yang memiliki kadar gula darah yang tinggi. Sehingga penderita diabetes berpotensi akan mengalami peradangan yang tinggi di seluruh tubuhnya.  Artinya kualitas kenyamanan hidupnya akan semakin menurun.

Kadar gula darah yang tidak stabil membuat penderita diabetes lebih berisiko saat terinfeksi Covid-19. Tingkat glukosa darah yang tidak setabil, gampang naik dan turun, dapat meningkatkan resiko komplikasi Covid-19 bagi pasien diabetes.

Kadar gula darah yang tinggi yang di alami oleh penderita diabetes bisa menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel endotel pembuluh darah sehingga membuat permeabilitas pembuluh darah terganggu dan menyebabkan peningkatan viskositas darah atau kekentalan darah. Dengan adanya infeksi virus corona yang menyerang organ paru-nya maka akan menyebabkan penderita diabetes akan mengalami pnemonia yang parah karena sebelumnya dia sudah kehilangan banyak kekuatan untuk melawan infeksi virus tersebut (akibat terlalu banyaknya kerusakan yang dialaminya).

Sehingga pasien akan cenderung menjadi semakin stres. Stres tersebut pun akan mempengaruhi hipotalamus di otak sehingga membuat keseimbangan dalam tubuh menjadi terganggu dan menyebabkan semakin bertambahnya kerusakan pada sistem di dalam tubuh.

Banyaknya kerusakan yang terjadi pada tubuh penderita diabetes tersebut, seperti kerusakan di sel endotel dan viskositas darah yang tinggi akan menyebabkan terjadinya pembekuan darah yang parah, sehingga aliran darah ke jantung pun akan terhenti dan menyebabkan kematian pasien.

Pasien penderita Diabetes yang terinfeksi  COVID-19 memiliki resiko tinggi mengalami sindrome Badai Sitokin.

 

Tingkat kematian yang tinggi pada penderita covid-19 umumnya disebabkan karena terjadinya sindrome Badai sitokin. Apalagi pada kasus penderita Covid-19 yang juga menderita diabetes cenderung akan memiliki resiko tinggi bakal mengalami sindrome badai sitokin.

Sindrome Badai Sitokin adalah suatu sindrome peningkatan Respons Inflamasi Sistemik yang terlalu berlebihan, yang dipicu oleh karena adanya suatu faktor, misalnya karena adanya infeksi oleh virus.

Telah kita pahami bahwa penderita diabetes itu cenderung mempunyai respons inflamasi yang berat. Jika pasien tersebut terinfeksi Covid-19, maka akan semakin memperparah terjadinya respon inflamasi sehingga bisa memicu terjadinya Sindrom Badai Sitokin.

Jika virus yang masuk bersifat baru dan daya patogennya tinggi, maka system imun akan melepaskan hormone sitokin untuk mengenali  virus tersebut dan juga untuk memperingatkan bahaya kepada sel. Namun pada kasus penderita diabetes, yang notabene-nya telah mengalami permasalahan dalam system imun. Mekanisme pelepasan sitokinnya justru menjadi berlebihan. Sehingga menyebabkan sejumlah besar sel darah putih akan diaktifkan untuk melepaskan sitokin inflamasi.

Sistem Imun sejatinya berfungsi untuk membantu tubuh melawan suatu infeksi. Namun, karena sistem imun-nya memang sedang mengalami gangguan akibat terlalu banyaknya kerusakan di dalam tubuh penderita diabetes,  maka memberikan respons yang tidak semestinya saat penderita diabetes terinfeksi virus corona.  System imunnya tersebut juga akan menyerang sel-sel yang sehat sehingga akan menyebabkan banyak kerusakan pada sel-sel organ.

Badai sitokin merupakan suatu kondisi pelepasan sitokin pro-inflamasi yang tidak terkontrol. Badai sitokin tersebut menyebabkan terjadinya apoptosisnya sel endotel dan epitel paru-paru sehingga  menyebabkan kebocoran vaskular dan edema alveolar di dala organ paru-paru yang terinfeksi oleh virus. Selanjutnya pasien akan mengalami hipoksia, respon sel T akan terganggu, terjadinya akumulasi makrofag, homeostasis di dalam jaringan tubuh akan mengalamai perubahan, dan menyebabkan terjadinya ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome), sebagai faktor penyebab utama terjadinya kematian pasien COVID-19.


Baca Juga