Gambar di atas menjelaskan tentang beberapa fakta yang ditemukan oleh para peneliti pada pasien DM tipe 2 yang terpapar oleh Covid-19, tentang skema terjadinya faktor penyebab kematian atau keparahan penyakit diantaranya adalah:

 

  1. Terjadinya Peningkatan sitokin inflamasi dan lipopolisakarida di paru,
  2. Peningkatan Sel NK (natural Killer),
  3. Peningkatan Reactive Oxygen (ROS),
  4. Aktivitas hormon angiotensin di sel paru meningkat, serta
  5. Fibrinogen dan D-dimer dalam darah juga bertambah banyak.

Dengan adanya peningkatan sitokin inflamasi dan lipopolisakarida maka akan menyebabkan fibrosis pada paru. Sel-sel paru di penuhi oleh banyak benang sel sehingga akan menyebabkan kerusakan pada organ paru dan saluran pernafasan lainnya, pasien akan mengalami gagal pernafasan, yang akhinya bisa menyebabkan kerusakan di pembuluh jantung dan mengakibatkan kematian.

 

Dengan meningkatnya ROS dan Interleukin-6 (sejenis sitokin/IL6) maka akan mempengaruhi pada kadar gula darah (Hiperglikemi) menjadi semakin bertambah tidak stabil sehingga menyebabkan tejadinya kerusakan di organ paru. Peningkatan ROS di sinyalir karena telah terjadi stress oksidatif pada jaringan sel yang mengalami inflamasi akibat infeksi virus covid-19.

 

Hiperglikemi yang tidak stabil juga akan menyebabkan kerusakan sel endotel pembuluh darah sehingga membuat permeabilitas pembuluh darah terganggu dan menyebabkan meningkatnya viskositas darah atau kekentalan darah. Dengan adanya infeksi virus maka kerusakan pada sel endotel akan semakin parah. Viskositas darah yang semakin tinggi bisa menyebabkan terjadinya pembekuan darah sehingga menyebabkan aliran darah ke jantung akan terhenti dan menyebabkan kematian.

 

Infeksi virus SAR-CoV2 pada pasien penderita diabetes juga bisa menyebabkan terjadinya peningkatan fibrinogen dan D-dimer.

Fibrinogen adalah sejenis protein yang di produksi dalam plasma darah yang berguna dalam proses pembekuan darah.  Fungsi fibrinogen sebenarnya bermanfaat pada saat tubuh mengalami luka, sehingga lukanya akan di tutupi oleh fibrinogen. Namun pada kasus penyakit diabetes yang terinfeksi covid-19, peningkatan fibrinogen justru malah akan membahayakan pasien tersebut, karena aliran darah pasien menjadi kurang lancar bahkan menjadi macet sebab darahnya menjadi semakin mengental dan membeku. Akhirnya menyebabkan pada kematian.

 

Para peneliti yang meneliti kondisi pasien diabetes yang terinfeksi Covid-19 telah menemukan bukti adanya kerusakan parah pada beberapa organ vital pasien diabetes yang disebabkan oleh infeksi Covid-19. Beberapa kerusakan parah tersebut ditemukan di bagian alveolus difus organ paru, terjadi peradangan di organ jantung (miokard), infiltrasi limfosit di organ hati, terkumpulnya sel makrofag di bagian otak, kejadian cedera aksonal, pembekuan darah (mikrotrombi) di ginjal (glomeruli) dan pankreatitis fokal. Hal ini membuktikan kalau pasien penderita diabetes yang terpapar virus covid-19 memang mengalami inflamasi parah.

 

Di sisi lain, kadar gula darah yang tinggi (Hiperglikemia) pada penderita penyakit diabetes juga telah menyebabkan banyak kerusakan pada sel endotel vascular pembuluh darah. Kerusakan tersebut menyebabkan terjadinya komplikasi di saluran makrovaskular (pembuluh darah besar) maupun mikrovaskular (Pembuluh darah kecil).   Sel endotel saluran darah yang terganggu itu pun menyebabkan gangguan pada permeabilitas dinding saluran darah. Sehingga mempengaruhi pada viskositas sel darah. Darah menjadi semakin kental, sehingga pergerakannya menjadi tidak fleksibel. Akhirnya menyebabkan penurunan performa system organ yang ada dalam tubuh, termasuk juga pada kinerja system imun. Padahal, saat penderita diabetes terinfeksi virus Covid-19  tubuhnya sebenarnya sudah kehilangan banyak kemampuan untuk melawan infeksi virus tersebut. Karena system imunnya yang telah terganggu. Sehingga tubuhnya menjadi lemah dalam menangkal serangan virus covid-19 yang menginfeksinya.

 

Gangguan yang terjadi pada  reseptor ACE2.

ACE2 adalah bagian dari sistem renin-angiotensin-aldosterone (RAAS), yaitu suatu system yang berfungsi dalam mengatur kontraksi dan relaksasi organ paru dan jantung. Saat reseptor ACE2 maka dapat

ACE2 saat ini telah mendapat banyak perhatian para pakar kesehatan karena perannya sebagai reseptor untuk masuknya virus SARS- CoV serta SARS-CoV-2 ke dalam sel tubuh manusia. ACE2 awalnya dilaporkan diekspresikan secara dominan dalam sistem pernapasan. Namun, berdasarkan suatu studi yang lebih canggih dengan menggunakan analisis imunohistokimia ditemukan  fakta kalau ACE2 juga teryata diekspresikan di usus, ginjal, miokardium, pembuluh darah dan pankreas, meskipun memang lebih dominan dalam sistem pernapasan.

 

Kerusakan pada Reseptor ACE2 juga menyebabkan terjadinya disfungsi sel β pankreas

Beberapa bukti lain menunjukkan tentang hubungan antara ACE2 dan regulasi glukosa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tikus, ditemukan sebuah fakta yang menarik, yaitu tikus yang reseptor ACE2-nya mengalami kerusakan  ternyata akan lebih rentan terhadap disfungsi sel β pankreas yang diinduksi oleh diet yang tinggi lemak dibandingkan pada  tikus tipe liar. Sehingga, kita dapat menyimpulkan kalau infeksi SARS- CoV yang mengganggu reseptor ACE2 kemungkinan besar bisa menyebabkan hiperglikemia meskipun pasien tersebut belum pernah menderita diabetes mellitus sekalipun. Hal ini menunjukkan kalau virus corona mungkin secara khusus dapat merusak pulau langerhans, sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya hiperglikemia. Bahkan hiperglikemia tersebut dapat bertahan selama 3 tahun pasca pemulihan dari SARS. Data ini menunjukkan kalau ACE2 sebagai bagian dari RAAS mungkin juga terlibat dalam hubungan antara COVID-19 dan diabetes mellitus.

 

Di Amerika Serikat,  pasien COVID-19 yang dirawat di ICU yang mengalami keparahan ternyata terdapat prevalensi  penyakit diabetes mellitus 58%.  Hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan kuat antara COVID-19 yang parah dengan diabetes mellitus.

 

Upaya Pencegahan  Covid-19 pada penderita diabetes 

Untuk mencegah tertular virus corona, penderita diabetes juga perlu menjalankan langkah pencegahan dasar seperti sering cuci tangan dengan menggunakan sabun atau larutan sanitizer, menghindari menyentuh wajah atau bagian tubuh vital lainnya yang bisa menjadi jalan masuknya virus ke dalam tubuh, rutin mendisinfeksi benda yang sering disentuh.

Langkah lainnya adalah  dengan berusaha menghindari kontak dengan orang yang sudah dinyatakan positif covid-19 atau yang memiliki gejala covid-19, menjaga agar gula darahnya tetap stabil, serta yang tak kalah penting adalah dengan menjaga asupan nutrisi makanannya yang dapat membantu meningkatkan kemampuan dari sistem imunnya.

 

 Lantas bagaimana jika penderita diabetes sudah terlanjur terpapar  Covid-19? 

Apabila pasien diabetes merasakan gejala infeksi virus corona seperti demam, sesak napas, batuk kering, dan kelelahan, maka segera melakukan upaya pengobatan untuk mengatasi infeksi Covid-19 agar jangan sampai bertambah parah.  Namun karena sampai saat ini belum ditemukan obat yang secara langsung dapat mengatasi infeksi covid-19 maka hal yang paling utama yang dapat dilakukan adalah dengan cara berusaha meningkatkan system imun di dalam tubuhnya.

 

Saat sistem imun mendeteksi adanya ancaman dari infeksi virus yang masuk ke dalam jaringan tubuh, maka sistem imun akan mengeluarkan suatu hormon penanda bahaya berupa sitokin. Sitokin ini akan mengaktifkan Untuk meredam agar jangan sampai terjadi sekresi sitokin yang berlebihan maka sebaiknya mengkonsumsi makanan yang bergizi yang mengandung senyawa kompleks dan berusaha menjaga asupan nutrisi tubuh yang sesuai bagi penderita diabetes. Sehingga gula darahnya bisa tetap terjaga normal dan system imunnya juga dapat bekerja baik.

 

Hal yang tak kalah penting, penderita diabetes tak boleh panik menyikapi wabah Covid-19 karena Stres dapat memperburuk keadaan penyakitnya. Makanya penderita diabetes harus tetap tenang dan berusaha untuk menjaga agar gula darahnya tetap normal

 

Selain menjaga pikiran agar selalu positif,  hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga asupan nutrisi tubuhnya. Nutrisi bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meregenerasi sel yang mengalami kerusakan serta sebagai sumber energi bagi metabolisme sel, sehingga sistem yang ada dalam tubuh kita bisa berfungsi secara optimal. Tidak terkecuali dengan sistem imun yang berguna untuk mengatasi virus covid-19 yang sekarang sedang mewabah.

 

 


Baca Juga