Penyakit jantung atau juga di sebut penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Penyakit ini  dikenal sebagai penyakit yang bersifat “silent killer”.  sistem kardiovaskular merupakan  sesuatu yang sangat vital, sehingga penyakit kardiovaskular ini menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Ada banyak macam penyakit kardiovaskular, tetapi yang paling umum dan paling terkenal adalah penyakit jantung dan stroke.

 

Berdasarkan data dari American Heart Association, 2021, penyakit jantung merupakan penyakit yang menyumbangkan angka kematian tertinggi di dunia. Sekitar 30% kematian di dunia akibat dari serangan penyakit jantung, jauh melebihi angka kematian yang di sebabkan oleh kanker, penyakit saluran pernafasan dan juga diabetes.

 

Selain sebagai penyumbang angka kematian tertinggi, penyakit jantung juga ternyata dimasukan dalam kategori penyakit katastropik, yaitu penyakit yang menelan biaya yang sangat  mahal. Pada tahun 2020, anggaran BPJS untuk penyakit jantung telah menyerap lebih dari 10 triliun rupiah. Jauh lebih tinggi di bandingkan penyakit lainnya seperti kanker, stroke, gagal ginjal dan lainnya.

 

Penyebab Utama Penyakit Jantung

Penyakit jantung  atau di sebut juga penyakit kardiovaskular paling sering terjadi akibat adanya aterosklerosis. Atherosklerosis adalah terjadinya penumpukan plak lipid (lemak) di arteri yang membawa darah ke otot jantung. Penumpukan plak lipid  tersebut akan mempersempit bagian dalam saluran pembuluh darah arteri, sehingga darah lebih sulit mengalir.

Dislipidemia adalah suatu kelainan pada salah satu atau keseluruhan metabolisme lipid yang dapat berupa peningkatan ataupun penurunan profil lipid, meliputi peningkatan kadar kolesterol total, peningkatan kadar trigliserida (TG), peningkatan kadar low density lipoprotein (LDL), dan penurunan kadar high density lipoprotein (HDL).

Jika plak di arteri jantung pecah (terbuka), maka akan menyebabkan terjadinya gumpalan darah yang selanjutnya akan terjadi pembekuan darah.  Pembekuan darah tersebut selanjutnya akan menyebabkan  aliran darah menuju jantung akan terhambat dan lama-kelamaan akan terhenti.

Kemudian bagian otot jantung yang disuplai oleh arteri itu pun mulai akan mati. Kerusakan meningkat semakin lama, arteri menjadi semakin tersumbat. Dalam beberapa kasus, akan menyebabkan kematian yang cepat. Setelah otot itu mati, hasilnya adalah kerusakan jantung permanen. Jumlah kerusakan pada otot jantung tergantung pada ukuran area yang disuplai oleh arteri yang tersumbat dan waktu antara cedera dan perawatan. Arteri yang tersumbat harus dibuka sesegera mungkin untuk mengurangi kerusakan jantung.

 

 

Apa saja gejala atau tanda dari Atherosklerosis?

Aterosklerosis berkembang dari waktu ke waktu, sering tidak memiliki gejala sampai ada kerusakan yang cukup untuk mengurangi aliran darah ke otot jantung Anda. Anda harus mengetahui tanda-tanda peringatan serangan jantung sehingga Anda bisa mendapatkan bantuan segera, baik untuk diri sendiri atau orang yang dekat dengan Anda. Beberapa serangan jantung terjadi secara tiba-tiba dan intens. Tapi kebanyakan mulai perlahan, dengan rasa sakit ringan atau ketidaknyamanan. Berikut adalah beberapa tanda yang bisa menandakan serangan jantung sedang terjadi:

  • Tekanan yang tidak nyaman, tekanan, rasa penuh atau nyeri di bagian tengah dada Anda. Itu berlangsung lebih dari beberapa menit, atau hilang dan kembali.
  • Nyeri atau ketidaknyamanan pada satu atau kedua lengan, punggung, leher, rahang atau perut.
  • Sesak napas dengan atau tanpa rasa tidak nyaman di dada.
  • Tanda-tanda lain seperti keluarnya keringat dingin, mual atau pusing.

 

Mengatasi masalah Atherosklerosis yang menjadi penyebab penyakit jantung dengan makanan nutraceutical.

 

Nutraceutical adalah suatu bahan pangan yang memiliki kandungan nutrisi tertentu yang memiliki manfaat kesehatan atau pengobatan.  Kata "nutraceutical" adalah kombinasi dari kata "nutra  yang berarti nutrisi" dan "ceutical yang berarti obat", diperkenalkan pada tahun 1989 oleh Stephen L. DeFelice, pendiri dan ketua Yayasan Kedokteran Inovasi (the Foundation for Innovation in Medicine), sebagai ‘‘ zat apa pun yang merupakan makanan atau bagian dari makanan yang dapat memberikan manfaat pengobatan atau kesehatan, termasuk pencegahan dan perawatan penyakit”. Nutraceutical seringkali disebut sebagai functional foods atau makanan fungsional.

 

Untuk kasus penanganan perawatan kesehatan jantung maka bahan nutraceutical yang sesuai adalah berbagai bahan makanan yang memiliki kandungan aktif untuk mengatasi terjadinya atherosklerosis. Sudah banyak penelitian yang dilakukan yang terkait dengan peran berbagai zat nutrisi yang dapat berpengaruh pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Bahkan di Indonesia sendiri sebenarnya ada cukup banyak jenis makanan lokal  yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai nutraceutical yang memiliki efek terhadap kesehatan kardiovaskular khususnya dalam penanganan terjadinya atherosklerosis. Berbagai bahan pangan tersebut diantaranya adalah makanan yang mengandung asam lemak omega 3 baik yang berasal dari minyak ikan laut dalam maupun tanaman seperti oatmeal dan lainnya, buah pisang yang mengandung potasium dan kalium, bekatul, tempe kedelai yang kaya dengan berbagai asam amino dan juga mengandung nitrit oksida yang berperan dalam perbaikan elastisititas endotel pembuluh darah, dan lainnya.

 

Manfaat dari asam lemak omega 3 terhadap kesehatan Jantung

Beberapa uji klinis dan studi epidemiologi menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 memiliki peran signifikan dalam mencegah penyakit jantung koroner. Asam lemak omega-3 adalah asam lemak politakjenuh dengan sebuah ikatan rangkap-dua (C=C) dimulai setelah atom karbon ketiga dari salah satu ujung rantai karbonnya. Asam lemak ini memiliki dua ujung—salah satu ujungnya adalah asam (COOH) dan ujung yang lain adalah metil (CH3 ). Lokasi ikatan rangkap-dua pertama berlawanan dari ujung metilnya, yang juga dikenal sebagai ujung omega (ω) atau ujung n. 67,68

 

Sumber asam lemak omega-3 berasal dari makanan termasuk minyak ikan yang kaya akan asam eikosapentanoik (EPA) dan asam dokosaheksaenoik (DHA) bersama dengan asam alfa-linolenik dari tumbuhan. Beberapa mekanisme menjelaskan efek kardioprotektif omega-3, termasuk sebagai antiaritmik, hipolipidemik, dan antitrombotik.

Asam lemak omega-3 merupakan suplemen yang paling sering diresepkan di seluruh dunia.

 

Efek hipotrigliseridemik asam lemak omega-3 yang berasal dari minyak ikan telah banyak diteliti. Dalam kajian komprehensif studi pada manusia, Harris melaporkan bahwa konsumsi asam lemak omega-3 dari minyak ikan sebanyak ~4 g/hari menurunkan konsentrasi trigliserida serum sebesar 25%-30% dengan diiringi peningkatan LDL sebesar 5%-10% dan HDL sebesar 1%-3%.25 Minyak ikan terutama memiliki efek terapeutik pada kondisi hipertrigliseridemia berat (lebih dari 750 mg/dL). Dosis omega-3 yang efektif berkisar antara 3-5 gram per hari, dan kadar ini hanya bisa dicapai suplementasi yang konsisten. Saat ini pula ditemukan bahwa EPA dan DHA memiliki efek menurunkan kadar trigliserida.

 

Pasien yang mengonsumsi lebih dari 3 gram EPA+DHA dari suplemen harus berada di bawah pengawasan klinisi, karena Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat menemukan konsumsi berlebih kedua komponen ini dapat menyebabkan perdarahan pada beberapa individu. Sebaliknya, asupan yang bersifat kardioprotektif bisa didapat dengan dosis yang lebih rendah (~1 gram per hari) dengan efek samping minimal dan hal ini bisa didapatkan dengan diet.

 

Asam lemak omega-3 EPA dan DHA meningkatkan aktivitas siklooksigenase yang kemudian meningkatkan kadar tromboksan B3 sehingga terjadi vasodilasi. Selain itu, prostaglandin PGI3 dan PGE3 meningkat sehingga menurunkan ambang batas aritmia dan bersama tromboksan A3 menurunkan agregasi platelet. Leukotrien B5 juga meningkatkan aktifitas anti-inflamasi seperti yang terlihat pada Gambar 1.

Tekanan darah

Asam lemak omega-3 juga menunjukkan efek hipotensif bergantung dari dosis yang diberikan dan derajat hipertensi yang diderita. Pada studi metaanalisis, Morris et al. ditemukan penurunan tekanan darah yang signifikan sebesar -3,4/-2,0 mmHg pada studi terhadap kelompok yang mendapat suplementasi asam lemak omega-3 sebesar 5,6 gram per hari. Hasil yang serupa ditemukan oleh Appel et al. yang menunjukkan penurunan tekanan darah sebesar -5,5/-3,5 mmHg. DHA menunjukkan efek yang lebih bermakna dibandingkan dengan EPA dalam menurunkan tekanan darah.  Namun demikian, masih perlu studi lebih lanjut mengenai penggunaan dosis tinggi untuk menurunkan tekanan darah.

 

Trombosis dan hemostasis

Asam lemak omega-3 terbukti dapat menurunkan agregasi platelet,  menyebabkan pemanjangan waktu perdarahan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa minyak ikan dapat meningkatkan fibrinolisis. Dengan adanya EPA, produksi tromboksan A3 meningkat dibandingkan dengan tromboksan A2—sebuah vasokonstriktor yang poten dan aktivator platelet yang berasal dari asam arakidonat. EPA kemudian menetralkan efek tromboksan A2 dengan memproduksi prostaglandin yang menghambat agregasi platelet dan menyebabkan vasodilasi. Sekalipun konsumsi omega-3 berasosiasi negatif dengan kadar fibrinogen, faktor VIII, dan faktor von-Willebrand, bukti terbaru studi Coronary Artery Risk Development In young Adults (CARDIA) menemukan hubungan yang tidak signifikan antara asupan ikan dan asam lemak omega-3 dengan faktor koagulasi ini. Minyak ikan dengan dosis empat gram per hari tidak memengaruhi waktu perdarahan ataupun angka episode perdarahan pada studi terhadap 511 pasien yang mendapat aspirin atau warfarin setelah prosedur CABG.

 

Namun demikian, karena potensi memanjangnya waktu perdarahan dan interaksi dengan warfarin, pasien dalam pengobatan antikoagulan harus dimonitor dengan ketat dan dosis antikoagulan harus disesuaikan bila perlu. Inflamasi, trombosis, dan fungsi endotel memiliki mekanisme molekular yang serupa dan pada dasarnya merupakan sebuah proses yang saling terkait secara intrinsik.

 

Efek anti-inflamasi dari asam lemak omega-3 diperkirakan dimediasi oleh berkurangnya sintesis molekul inflamasi dari asam lemak omega-6. Produk metabolisme asam arakidonat, termasuk prostaglandin, leukotriene, lipoksin, dan produk epoksigenase, merupakan regulator penting dari fungsi seluler; mayoritas produk ini memiliki efek aterogenik dan trombotik. EPA merupakan substrat kompetitif untuk enzim yang bekerja pada kaskade asam arakidonat (Gambar 1).

 

Keterlibatan EPA menghasilkan produk akhir yang berbeda, yang kebanyakan berlawanan dengan produk hasil metabolisme asam arakidonat. Asam lemak omega-3 juga melawan metabolit asam lemak omega-6 dengan meningkatkan produksi leukotriene B5 yang inaktif dan secara kompetitif menghambat leukotriene B4 dari asam arakidonat yang bersifat sangat inflamatorik. Terdapat hipotesis bahwa properti anti-inflamasi tersebut yang dapat menurunkan inflamasi aterogenik vaskular. Namun demikian, beberapa studi mempertanyakan efek asam lemak omega-3 terhadap inflamasi. Pada studi terhadap mencit yang mengalami cedera tulang belakang, pemberian EPA dan DHA tidak dapat membalikkan respons inflamasi hepatik yang disebabkan laminektomi atau cedera tulang belakang. Studi tersebut menunjukkan beberapa efek anti-inflamasi DHA, namun tidak ada peran EPA.42 Omega-3 juga memperbaiki fungsi endotel dengan menginduksi pelepasan NO (nitrik oksida) sel endotel. Asam lemak omega-3 juga menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik saat istirahat dengan menginkorporasi EPA dan DHA ke dalam membran fosfolipid dan oleh karenanya meningkatkan komplians arteri sistemik.

 

Anti-aritmik

Mengubah keseimbangan produk asam lemak omega-6 dan omega-3 juga memengaruhi ambang batas aritmia karena hampir semua prostaglandin yang diproduksi dari asam arakidonat bersifat proaritmik, sedangkan produksi dari EPA tidak proaritmik. Kemungkinan asam lemak omega-3 (termasuk asam alfa-linolenik) dapat menurunkan kejadian henti jantung mendadak didasarkan pada bukti studi kohort prospektif, studi casecontrol,  dan empat uji intervensi diet.

 

Mekanisme yang mendasari hal ini bukan pada kemampuannya menurunkan kadar kolesterol atau tekanan darah ataupun efek anti-trombotiknya, melainkan pada efek asam lemak omega-3 langsung pada miokardium. EPA dan DHA ditemukan dapat menurunkan detak jantung dan meningkatkan kapasitas pengisian ventrikel kiri.

 

Asam lemak omega-3 juga secara langsung memengaruhi detak jantung karena kemampuannya menghambat kanal natrium pada miosit dan memperpanjang periode refrakter relatif. Oleh karenanya, tegangan yang lebih tinggi dibutuhkan untuk mendepolarisasi membran sel dan detak jantung akan berkurang. Omega-3 juga mencegah kelebihan kalsium dengan menjaga aktivitas kanal kalsium tipe-L pada periode stres. Percobaan pada mencit dan anjing menunjukkan bahwa premedikasi dengan omega-3 menurunkan tingkat kerusakan pada miokardium dan kejadian disritmia ventrikel ketika serangan jantung diinduksi pada hewan-hewan tersebut. Observasi serupa menunjukkan kucing yang mendapat minyak ikan terlindungi dari kerusakan serebral setelah dilakukan induksi stroke.

 

Refrensi:

 

Grace Fonda, Raymond Pranata, Hadrian Deka. Peran Asam Lemak Omega-3 pada Dislipidemia dan Penyakit Kardiovaskular. Jurnal Kardiologi Indonesia • Vol. 37, No. 4 • Oktober - Desember 2016

 


Baca Juga