Dalam lanskap yang luas dari kehidupan manusia, setiap atom memainkan peranannya dalam sebuah orkestrasi yang luar biasa, di mana Allah SWT menundukkan atom-atom untuk membentuk sel-sel yang kompleks dan fungsional dalam tubuh kita. Gambaran ini bukan hanya tentang keajaiban penciptaan, tapi juga tentang bagaimana setiap elemen, dengan sifat independennya, berkontribusi pada keutuhan yang lebih besar. Sebagian atom diundang untuk menjadi bagian dari sistem tubuh kita, sementara yang lainnya, demi keseimbangan, harus tetap di luar.

Pemahaman mendalam tentang algoritma tubuh—hingga ke karakteristik atomik—menjadi penting, tidak hanya sebagai wujud penghargaan terhadap kecerdasan Sang Maha Pencipta alam semesta, tapi juga sebagai kunci untuk menjaga keharmonisan tubuh kita. Salah memahami atau mengabaikan algoritma ini bisa berakibat pada ketidakharmonisan atau bahkan kerusakan.

Mari kita ambil contoh atom besi (Fe) yang sering dipahami secara simplistis sebagai komponen hemoglobin (Hb) untuk mengatasi anemia. Namun, perannya jauh lebih kompleks; Fe berfungsi sebagai pembawa oksigen dalam darah ke seluruh tubuh. Atom Fe, dengan semua sifat kimianya yang tercatat dalam tabel periodik, seperti potensi berkarat atau membentuk radikal bebas, tetaplah Fe. Namun, dalam rancangan yang maha indah, Allah SWT mengalgoritmakan Fe dalam darah kita agar terikat dengan lima protein dan satu molekul oksigen, menjaga agar sifat aslinya tidak mengganggu sistem tubuh dan menjadikannya bermanfaat bagi triliunan sel di dalam tubuh manusia.

Proses pembuatan hemoglobin di sumsum tulang menunjukkan bahwa Fe yang kita konsumsi harus diangkut dari usus ke sumsum tulang dengan cara yang sangat teratur. Allah SWT tidak membiarkan Fe 'berkelana' bebas dalam darah menuju sumsum tulang, tapi mengikatnya dengan protein transferin untuk menghindari kerusakan pada sistem tubuh.

Namun, ketidakpahaman tentang algoritma ini, terutama di kalangan ibu hamil yang diberi suplemen Fe tanpa pemeriksaan yang memadai atau tanpa asupan protein yang cukup, bisa berakibat fatal. Fe yang 'terlepas' bisa menunjukkan sifat aslinya dan mengganggu keseimbangan tubuh.

Kisah Fe ini hanyalah satu dari banyak contoh bagaimana intervensi tanpa pemahaman yang cukup—yang sering terjadi di masyarakat modern—bisa berujung pada hasil yang tidak diinginkan. Dari nutrisi yang ditambahkan berbagai mineral tanpa mempertimbangkan kapasitas transporternya, hingga konsumsi obat yang menghambat asam lambung dan mengganggu penyerapan nutrisi, semuanya mengingatkan kita pada pentingnya ilmu dalam setiap tindakan.

"Ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah, dan amal tanpa ilmu adalah jalan menuju kehancuran," pepatah ini mengingatkan kita pada pentingnya keseimbangan antara pengetahuan dan tindakan. Di era di mana "Amal tanpa Ilmu" menjadi kebiasaan, memahami dan menghormati algoritma Sang Pencipta dalam biologi kita bukan hanya sebuah pilihan, tapi kebutuhan.