Belajar dari pandemik covid-19 yang telah menyebabkan banyak korban kematian terutama dari kalangan penderita diabetes. Menurut informasi yang diambil dari berita harian online kompas pada tanggal 7 agustus 2020, pasien diabetes yang terkena Covid-19 memiliki kecenderungan resiko yang lebih berbahaya di banding penderita covid-19 yang tidak menderita sakit diabetes.

Penderita diabetes yang terinfeksi virus corona bisa mengalami komplikasi kesehatan yang serius bahkan kematian, apalagi kalau penyakit diabetesnya sudah disertai penyakit komplikasi lainnya seperti penyakit jantung, stroke dan lainnya, maka resiko bahaya kematiannya semakin bertambah besar.

Mengapa penderita diabetes bisa menjadi lebih rentan terhadap bahaya serangan infeksi virus?

Alasan pertama adalah karena sistem imun penderita diabetes telah mengalami gangguan yang disebabkan oleh penyakit diabetesnya itu sendiri. Sistem imun menjadi lemah sehingga penderita diabetes kesulitan untuk mengatasi serangan infeksi virus.

Secara umum kita sudah faham, bahwa nutrisi gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan respons imunitas. Penelitian epidemiologis dan klinis juga menunjukkan bahwa kekurangan nutrisi dapat menghambat respons imunitas serta dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit infeksi.

Pada kasus penderita diabetes, sel tubuh juga mengalami masalah kekurangan nutrisi. Kekurangan nutrisi tersebut terjadi bukan karena tubuh kekurangan asupan makanan, namun karena sel tubuh tidak mampu menyerap glukosa untuk masuk ke dalam sel untuk dimetabolisme. Meskipun sudah mendapatakan asupan makanan namun karena nutrisinya tidak mampu diserap oleh sel tubuh karena adanya masalah resistensi insulin. Akibatnya banyak sel akan mengalami kekurangan nutrisi dan menyebabkan masalah pada berbagai organ di dalam tubuh.

Selain menyebabkan kekurangan nutrisi, penyakit diabetes juga menyebabkan kerusakan pada saluran pembuluh darah. Kadar gula darah yang tinggi, yang di alami oleh penderita diabetes bisa menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel endotel pembuluh darah sehingga membuat permeabilitas pembuluh darah menjadi terganggu dan menyebabkan peningkatan viskositas darah atau kekentalan darah. Padahal sejatinya, saluran pembuluh darah itu adalah jalur utama sebagai sarana transportasi penyaluran nutrisi dan oksigen yang diperlukan oleh sel seluruh tubuh, termasuk juga sistem imun. Apabila jalur nutrisi mengalami kerusakan tentunya akan menyebabkan sel tubuh menjadi kekurangan asupan nutrisi sehingga akan mengakibatkan masalah di berbagai organ tubuh termasuk sistem imun.

Di sisi lain, karena telah terjadi banyak kerusakan di pembuluh darah dan organ, membuat sistem imun akan sibuk mengatasi berbagai kerusakan tersebut dengan cara mengaktifkan proses inflamasi.  Apabila pada saat tersebut terjadi infeksi dari virus yang berbahaya seperti covid-19, maka akibatnya bisa menjadi fatal karena sistem imunnya sedang dalam keadaan yang lemah. Sehingga penderita diabetes menjadi sangat rentan terinfeksi oleh virus yang berbahaya seperti covid-19. Dengan adanya infeksi virus corona yang menyerang organ paru-paru maka akan menyebabkan penderita diabetes akan mengalami pnemonia yang semakin parah karena sudah kehilangan banyak kekuatan untuk melawan infeksi virus tersebut akibat terlalu banyaknya kerusakan yang dialami di dalam tubuh.

Banyaknya kerusakan yang terjadi pada tubuh penderita diabetes tersebut, seperti kerusakan di sel endotel dan viskositas darah yang tinggi akan menyebabkan terjadinya pembekuan darah yang parah, sehingga aliran darah ke jantung pun akan terhenti dan menyebabkan kematian pasien.

Infeksi virus covid-19 pada pasien penderita diabetes juga bisa menyebabkan terjadinya peningkatan fibrinogen dan D-dimer. Fibrinogen adalah sejenis protein yang di produksi dalam plasma darah yang berguna dalam proses pembekuan darah.  Fungsi fibrinogen sebenarnya bermanfaat pada saat tubuh mengalami luka, sehingga lukanya akan di tutupi oleh fibrinogen. Namun pada kasus penyakit diabetes yang terinfeksi covid-19, peningkatan fibrinogen justru malah akan membahayakan pasien tersebut, karena aliran darah pasien menjadi kurang lancar bahkan menjadi macet sebab darahnya menjadi mengental dan membeku. Akhirnya bisa menyebabkan resiko kematian. Sedangkan D-dimer merupakan suatu penanda bahwa adanya masalah penggumpalan dalam darah. Semakin tinggi angkanya, artinya orang tersebut akan lebih rentan mengalami penggumpalan darah.


Baca Juga