Anggapan umum selalu mengatakan bahwa orang yang sakit gangguan lambung adalah orang-orang yang mengalami  gejala-gejala  dengan keluhan  mual, perut terasa penuh tanpa berkesudahan, muntah, rasa terbakar di dada, diare dan sakit kepala yang berkepanjangan.  Maka jika seseorang mengalami hal tersebut barulah disimpulkan bahwa seseorang tersebut mengalami sakit lambung. Lalu langkah-langkah yang dilakukan jika mengalami keluhan-keluhan seperti ini biasanya dilakukan tindakan berupa terapi presumtif  yaitu langsung diberikan obat penetral asam lambung dan obat tambahan lainnya seperti obat tidur, obat nyeri, antibiotik dsb.tanpa perlu dilakukan test uji lab lainnya.
 
Namun jika ternyata langkah terapi presumtif  ini tidak membawakan hasil yang makin membaik, atau  malah makin memburuk maka akan dilanjutkan dengan pemeriksaan darah dan endoskopi yang biayanya mahal dan sangat tidak mengenakkan badan. Penanganan gangguan lambung  sampai saat ini umumnya adalah tetap diberikan obat maag baik obat penetral asam lambung (obat sejenis antacida) maupun obat penghambat asam lambung (obat golongan Ranitidine, cemetidin, Famotidin, omeprazole, Esomeprazole, Lansoprazole) dan bagaimana hasilnya?

Ternyata selain tidak menyembuhkan, yaitu hanya menghilangkan gejalanya saja, ternyata muncul masalah-masalah lainnya seperti hiperkolesterol, kondisi tubuh mudah masuk angin, hipertensi, diabetes, kondisi  ukuran badan yang kurang proporsional (bisa terlalu kurus, bisa obesitas), munculnya gangguan batu empedu, tumor, kanker dan sebagainya.
 
Dalam kajian Konsep Karnus, ternyata masalah gangguan lambung ini parameternya jauh berbeda dibanding pandangan secara umum.  Dalam Konsep Karnus gangguan lambung  bisa dipastikan sudah positif terjadi meskipun tidak ditandai dengan  keluhan mual, perut terasa penuh tanpa berkesudahan, muntah, rasa terbakar di dada, diare dan sebagainya.  Namun ternyata gangguan lambung yg terjadi adalah yang tanpa gejala tersebut jika seseorang ditemukan  profil  darah yang buruk, terutama kolesterol yang tinggi, gula darah tinggi, asam urat tinggi diatas normal  ditambah dengan  kondisi fisiknya  yang lemah.  
 
Dalam Konsep Karnus, meskipun seseorang  belum merasakan gejala /keluhan gangguan lambung, seseorang dengan kebiasaan makan pedas berlebihan (misal suka makan cabe lebih dari 10 cabe rawit sekali makan), makan dengan porsi yang jauh melebihi porsi makan, sering menunda makan, sering terlambat  atau sering  mengkonsumsi obat antinyeri maka kemungkinan besar dipastikan orang tersebut lambungnya mengalami gangguan/sakit/tidak bisa bekerja optimal,  kebiasaan buruk ini  jika dilakukan secara terus menerus akan menyebabkan lambungnya cacat dan mudah terkena penyakit degeneratif.

Lalu apa yang harus dilakukan jika seseorang lambungnya mengalami gangguan atau cacat? Tindakan yang bijaksana dan rasional adalah dengan cara merekonstruksi kembali jaringan sel pada lambung yang rusak dengan menggunakan nutrisi pembangun jaringan lambung. Kenapa harus makanan dan tidak bisa dengan obat? Makanan adalah elemen utama pembentuk jaringan tubuh yang sempurna sedangkan obat adalah racun tubuh yang dimanfaatkan khasiatnya untuk sementara waktu saja, oleh karena itu dalam membangun suatu jaringan yang sempurna tubuh memilih makanan daripada obat.
 
AG sereal dan Algatea adalah makanan tambahan utama yang merupakan nutrisi yang sudah dirancang untuk proses rekonstruksi lambung.  Untuk membuat lambung menjadi sempurna maka ada 2 hal yang harus dilakukan yaitu memperkuat jaringan mukosa dinding lambung dan melancarkan sistem sirkulasi darah. Ingat dan waspadai lambungmu, jangan tunggu sakit dan jangan buat lambungmu menjadi cacat seumur hidup.

Konsep Karnus Cara Cerdas Untuk Sehat

 

Sapto Martanto
(Health Advisor Konsep Karnus)

Konsultasi Gratis WA: 62 821 3274 0218