Penderita diabetes mungkin sudah bosan mendengar anjuran dari dokter atau praktisi kesehatan untuk membatasi bahkan menghindari konsumsi nasi dan juga makanan atau minuman manis. Tujuannya adalah agar makanan-makanan yang kita konsumsi tidak semakin meningkatkan kadar gula darah. Padahal yang kita ketahui, nasi telah menjadi makanan pokok yang umum dikonsumsi setiap hari. Jadi, apakah makan nasi itu salah? Apakah menjadikan nasi sebagai makanan pokok adalah tindakan yang kurang tepat? Dan apakah penderita diabetes harus menghindari nasi seperti yang dianjurkan beberapa tokoh yang beranggapan bahwa dengan menghindari nasi tubuh akan jauh lebih sehat?

Pada dasarnya, nasi mengandung karbohidrat yang akan dicerna dan dipecah menjadi bentuk sederhana yaitu glukosa. Dibandingkan lemak, karbohidrat lebih mudah diubah menjadi monomer (glukosa) untuk diedarkan oleh darah dan masuk ke sel-sel tubuh. Oleh karena itu glukosa merupakan gula utama dalam darah dan bahan bakar energi utama dalam tubuh [1].

Namun bagi penderita diabetes, konsumsi karbohidrat seperti nasi seringkali membuat ragu. Di satu sisi, konsumsi nasi bisa membuat kadar gula darah yang sudah tinggi semakin meningkat, namun tidak dipungkiri bahwa tubuh juga membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Jika jumlah glukosa darah sedikit maka akan terjadi proses glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari lemak) di hepar. Proses ini akan menghasilkan badan keton yang akan digunakan sebagai sumber bahan bakar metabolik menggantikan glukosa. Otak, misalnya, membutuhkan sekitar 120 g glukosa per hari. Badan keton dapat berfungsi sebagai sumber bahan bakar alternatif bagi otak. Namun testis, medula ginjal, dan eritrosit tidak dapat bertahan hidup dalam waktu lama tanpa glukosa [2]. Pembentukan badan keton dalam jumlah banyak dikaitkan dengan peradangan dan peningkatan stress oksidatif, sehingga memperbesar risiko keadaan patologis seperti penyakit kardiovaskuler, kanker, dll [3] [4]. Kadar gula darah yang semakin menurun juga dapat menyebabkan hipoglikemia yang justru lebih berbahaya dibandingkan hiperglikemia (gula darah tinggi).

Dari ulasan diatas dapat dikatakan bahwa meskipun menderita diabetes, sebaiknya tidak menghindari makan nasi. Fakta lainnya, nasi sudah dikonsumsi sejak zaman nenek moyang yang rata-rata memiliki kondisi kesehatan lebih baik dan berumur panjang dari generasi saat ini. Lantas apa yang membedakan kita jika sama-sama makan nasi?

Selain gaya hidup yang jauh lebih sehat, perbedaan intinya adalah karena nasi yang kita konsumsi saat ini berbeda dengan nasi yang mereka konsumsi. Ini bukan soal warna, rasa, jenis beras, atau organik tidaknya beras tersebut. Yang menjadi kekhawatiran adalah hilangnya satu komponen dalam nasi (atau lebih tepatnya padi) yang menyebabkan nasi miskin nutrisi dan tidak direkomendasikan bagi penderita diabetes. Komponen tersebut adalah bekatul. Padi memiliki setidaknya tiga komponen, yaitu sekam (kulit luar), bekatul, dan beras. Bekatul biasanya bewarna kekuningan dan merupakan kulit ari yang menempel di beras.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa bekatul mengandung suatu zat aktif bernama gamma orizanol yang dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah hiperglikemia dan resistensi insulin pada penderita diabetes. Bekatul dalam beras juga mengandung niacinamide yang akan menjadi katalis proses pembakaran glukosa (yang sudah menjadi asetil KoA) di mitokondria sel, sehingga langsung terpakai dan tidak menumpuk di darah [5].

Setelah mengetahui peran bekatul, kita dapat menyimpulkan bahwa beras yang berkualitas adalah beras berbekatul. Masalahnya, beras yang umumnya ada saat ini adalah beras poles, yang sudah digiling dan dihilangkan bekatulnya bersamaan dengan sekamnya. Hal ini sebenarnya memiliki tujuan, yaitu menghasilkan beras poles yang awet atau dapat disimpan dalam jangka waktu lama. Bekatul mengandung banyak gizi, oleh karena itu jika sudah terbuka dari sekamnya, akan membusuk dalam hitungan jam dan tidak sehat apabila dikonsumsi. Namun di sisi lain, beras poles telah kehilangan bekatul sehingga miskin nutrisi terutama bagi penderita diabetes.

Saat ini Konsep Karnus telah mengembangkan beras fortifikasi bekatul (Beras Karnus) khusus untuk penderita penyakit degeneratif, termasuk diabetes. Beras Karnus mempunyai indeks glikemik rendah dan mempunyai takaran yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan karbohidrat bagi penderita diabetes. Satu saset beras Karnus (100 gram) dapat mencukupi kebutuhan karbohidrat selama satu hari. Selain itu beras Karnus dilengkapi dengan teknologi transport electron (Mitotech). MitoTech adalah teknologi dari Konsep Karnus yang disematkan pada beras, yang bertujuan untuk meningkatkan efektifitas proses pembakaran di mitokondria sehingga dengan jumlah glukosa yang sedikit dapat menghasilkan energi yang optimal untuk kehidupan selOleh karena itu, beras Karnus sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes.

 

Referensi:
[1] Fadaka Adewale, et al. 2017. Biology of Glucose Metabolization in Cancer Cells. Journal of Oncological Sciences, Volume 3 (2): 45-51. ISSN 2452-3364. https://doi.org/10.1016/j.jons.2017.06.002

[2] Melkonian EA, Asuka E, Schury MP. Physiology, Gluconeogenesis. In: StatPearls. StatPearls Publishing, Treasure Island (FL); 2022. PMID: 31082163.

[3] Purchalska P & Crawford PA. 2021. The Annual Review of Nutrition: Metabolic and Signaling Roles of Ketone Bodies in Health and Disease. Annual Review Nutrition (41): 49-77. Available at nutr.annualreviews.org. https://doi.org/10.1146/annurev-nutr-111120-111518

[4] Zulfahmidah, Fajriansyah, Makmun A, Rasfahyana. 2021. Hubungan Obesitas dn Stress oksidatif. UMI Medical Journal Vol 6 (1). https://doi.org/10.33096/umj.v6i1.140

[5] Liu Ruru, et al. 2021. Antioxidant Interaction of α-tocopherol, γ-oryzanol and phytosterol in Rice Bran Oil. Food Chemistry, Volume 343, 128431. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2020.128431